Senin, 19 September 2011

Filsafat Pendidikan Konsep Ideal Manusia Berspektif Islam dan Relevansinya Dengan Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

Kemunculan dan perkembangan tradisi keilmuan, pemikiran, dan filsafat didunia islam tidak dapat di pisahkan dari kondisi lingkungan (kebudayaan dam peradaban) yang mengitarinya. Kemunculan dan perkembangan bukan sesuatu yang orisinal dan baru sama sekali tetapi merupakan formulasi baru yang merupakan perpaduan antara kebudayaan dan peradaban yang sudah ada dan inherent dalam masyarakat itu dengan kebudayaan dan peradaban yang baru datang. Karena, jauh sebelm wilayah-wilayah (yang disebut dunia islam) dihuni masyarakat muslim, telah tumbuh sesuatu masyarakat yang berkebudayaan dan berperadaban.


Uraian tentang kedudukan manusia dalam alam semesta dalam hubungannya dengan filsafat pendidikan islam, merupakan bagian yang amat penting, karena dengan uraian ini dapat diketahui dengan jelas tentang potensi yang dimiliki manusia serta peranan yang harus dilakukannya dalam alam semesta. Uraian ini selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar bagi perumusan tujua pendidikan, pendekatan yan harus ditempuh dalam proses belajar mengajar serta aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam pendidikan. Selain itu uraian ini penting dilakukan karena manusia dalam kegiatan pendidikan adalah merupakan subjek dan objek yang terlibat didalamnya. Tanpa ada kejelasan konsep tentang manusia ini, maka akan sulit ditentukan arah yang akan dituju dalam pendidikan.

Dalam makalah kali ini, pemakalah akan mencoba untuk membahas tentang bekal yang perlu dimiliki manusia dalam melakukan peranan pendidikan dalam rangka membantu mempersiapkan manusia untuk berperan dialam semesta.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Manusia: Al-Basyar, Al-Insan, An-Nas.


Dalam al-Quran banyak ditemukan gambaran yang membicarakan tentang manusia dan makna filosofis dari penciptaannya. Manusia merupakan makhluknya paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan yang dilengkapi dengan akal fikiran. Dalam hal ini Ibn arabi misalnya melukiskan hakikat manusia dengan mengatakan bahwa, “tak ada makhluk allah yang lebih bagus dari pada manusia, yang memiliki daya hidup, mengetahui, berkehendak, berbicara, melihat, mendengar, berfikir, dan memutuskan. Manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting, karna dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan untuk mengemban tugas dan fungsinya sebagai makhluk Allah dimuka bumi.


Ada tiga konsep yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk makna manusia, yaitu Al-Basyar, Al-Insan, dan Al-Nas. Meskipun ketiga kata tersebut menunjuk pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada uraian berikut:

  1. Kata al-Basyar, dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 surat. Secara etimologi al-Basyar berarti kulit kepala, wajah, atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut .

Dalam al-Qur’an, kata al-Basyar dapat di gunakan yaitu:

v Untuk Mulamasah, yaitu persentuhan kulit antara laki-laki dengan perempuan. Makna etimologis dapat dipahami bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki segala sifat kemanusiaan dan keterbatasan. Penunjukan kata al-Basyar ditunjukan Allah kepada seluruh manusia tanpa terkecuali Demikian pula halnya dengan para rasul-rasulnya. Hanya saja mereka diberikan wahyu, sedangkan kepada manusia umumnya tidak diberikan wahyu.

Firman Allah Swt:


Qul innamaa anabasyarummitslukum yuuhaa ilayya…”

Artinya:“Katakanlah: Sesungguhnya aku (Muhammad) hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku…” (Q.S. Al-Kahfi 18:110).


Qoolats robbi annaa yakuunu lii waladuwwalam yamsasnii basyarun…”

Artinya:“Maryam berkata : “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun (al-Basyar)…” (Q.S.Al-Imran/3:47)


v Untuk menjelaskan eksistensi Nabi dan Rasul.eksistensinya, memiliki kesamaan dengan manusia pada umumnya, akan tetapi juga memiliki titik perbedaan khusus bila dibanding dengan manusia lainnya.

v Untuk menjawab anggapan orang yahudi dan nasrani yang mengklaim diri mereka sebagai anak-anak dan kekasih pilihan Tuhan. Ini bahkan telah membentuk anggapan bahwa hanya kelompok merekalah yang termulia dan berhak untuk diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Sedangkan kaum yang lainnya tidak demikian. hal ini disampaikan dalam Firmannya:


Waqoolatil yahuudu wannashooraa nahnu abnaaullahi wa’ahib’baauhuu…”

Artinya:Orang-orang yahudi dan Nasrani mengatakan:”Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihnya”…(Q।S.Al-Maidah/5:18).


v Untuk menjelaskan proses kejadian Nabi Adam A.S. sebagai manusia pertama, yang memiliki perbedaan dengan poses kejadian manusia sesudahnya.

  1. Kata al-insan yang berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 75 kali dan tersebar daam 43 surat. Secara etimologi, al-insan dapat diartikan harmonis, lemah lembut, tampak, atau pelupa.

Dalam al-Qur’an, kata al-Insan dapat di gunakan yaitu:

v Untuk menunjukan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Harmonisasi kedua aspek tersebut dengan berbagai potensi yang dimilikinya mengantarkan manusia sebagai makhluk Allah yang unik dan istimewa, sempurna, dan memiliki diferensiasi individual antara yang satu dengan yang lain, dan sebagai makhluk dinamis, sehingga mampu menyandang predikat khalifah Allah dimuka bumi.


Perpaduan antara aspek fisik dan psikis manusia untuk mengekspresikan dimensi al-Insan al-Bayan, yaitu sebagai makhluk berbudaya yang mampu berbicara, mengetahui baik dan buruk, Mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban, dan lain sebagainya.

v Untuk menjelaskan sifat umum, serta sisi-sisi kelebihan dan kelemahan manusia sebagai makhluk pada sisi yang lain Hal ini terliht dari firman-firman Allah dalam al-Qur’an, seperti:

  1. Tidak semua yang di inginkan manusia berhasil dengan usahanya, bila Allah tidak menginginkannya.
  2. Gembira bila dapat nikmat, serta susah bila dapat cobaan. Kesemua ini terjadi karna manusia sering melupakan nikmat yang diberikan Allah (ingkar nikmat)
  3. Manusia sering bertindak bodoh dan zalim, baik terhadap dirinya maupun makhluk Alah lainnya.
  4. Manusia sering kali ragu dalam memutuskan persoalan.
  5. Manusia bila mendapat suatu kenikmatan materi, sering kali lupa diri dan bersifat kikir.
  6. Manusia adalah makhluk yang lemah, gelisah, dan tergesa-gesa.
  7. Kewajiban manusia ntuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
  8. Peringatan Allah agar manusia waspada terhadap bujukan orang-orang munafik,adanya kebangkitan pada alam kubur, dan memperhatikan makanannya.

v Untuk menunjukan proses kejadian manusia sesudah Adam। Kejadiannya mengalami proses yang bertahap secara dinamis dan sempurna didalam rahim.Penggunaan kata insan ini mengandung dua makna,yaitu: Pertama, makna proses biologis, yaitu berasal dari saripati tanah melalui makanan yang dimakan manusia, sampai pada proses pembuahan. Kedua, makna proses psikologis (pendekatan spiritual), yaitu proses ditiupkan ruhnya pada diri manusia, berikut berbagai potensi yang dianugrahkan Allah kepada manusia.


Kata al-Insan mengandung kesempurnaan sesuai dengan tujuan penciptaannya dan keunikan manusia sebagai makhluk Allah yang ditinggikan-Nya beberapa derajat dari makhluk-makhluk lain.

Dari pemaknaan manusia kata insan, terlihat bahwa manusia merupakan makhluk Allah yang memiliki sifat manusiawi yang bernilai positif dan negatif. agar manusia bisa selamat dan mampu memfungsikan tugas dan kedudukannya dimuka bumi dengan baik, maka manusia manusia harus senantiasa mengarahkan seluruh aktifitasnya, baik fisik maupun terutama psikis sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam.

c. Kata al-Nas dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali dan tersebar sebanyak 53 surat. Kata al-Nas menunjukan pada eksistensi manusia sebagai makhluk social secara keseluruhan, tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya..


Dalam menunjuk kata manusia, kata al-Nas menunjuk manusia sebagai makhluk social dan kebanyakan digambarkan sebagai kelompok manusia tertentu yang melakukan mafsadah dan merupakan pengisi neraka, disamping Iblis.


Disamping ketiga kata tersebut, allah Swt juga mendefinisikan manusia dengan menggunakan kata bani adam. Kata ini dijumpai dalam al-Qur’an sebanyak tujuh kali dan tersebar dalam tiga surat. Secara etimologi, kata Bani adam menunjukan arti pada keturunan Nabi Adam A.S.


Menurut al-Thabathaba’i, pengguna kata Bani Adam menunjuk pada arti manusia secara umum. Dalam hal ini, setidaknya ada tiga aspek yang dikaji, yaitu:

Ø anjuran untuk berbudaya sesuai dengan ketentuan Allah, diantaranya adalah berpakaian guna menutup auratnya.

Ø Mengingatkan kepada keturunan adam agar jangan terjerumus pada bujuk rayu syaitan yang mengajak pada keingkaran.

Ø Memanfaatkan semua yang ada dialam semesta dalam rangka beribadah dan mentauhidkannya.


Kesemua itu merupakan anjuran sekaligus peringatan Allah, dalam rangka memuliakan keturunn Adam disbanding makhluk-Nya yang lain.


Dilihat dari proses penciptaannya, al-Quran menyatakan proses penciptaan manusia dalam dua tahapan yang berbeda, yaitu:

Ø Tahapan primordial

Ø tahapan biologi


Berdasarkan proses penciptaan itu, manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan immateri. Komponen materi berasal dari tanah dan komponen immateri ditiupkan oleh Allah . Kesatuan ini memberikan makna bahwa di suatu sisi manusia sama dengan dunia diluar dirinya (fana), dan sisi lain menandakan bahwa manusia itu mampu mengatasi dunia sekitarnya, termasuk dirinya sebagai jasmani (baqa).


Menurut Harun Nasution, unsur materi manusia mempunyai daya fisik, seperti melihat, mendengar, meraba, mencium dan gaya gerak. Sementara itu unsur immateri mempunyai dua daya, yaitu daya berfikir yang disebut akal dan daya rasa yang berpusat dikalbu. Konsep ini membawa konsekwensi bahwa secara filosofis pendidikan islam seyogyanya merupakan kesatuan pendidikan qabliyah dan Aqliyah agar tercipta manusia-manusia yang memiliki kepribadian yang utuh sesuai dengan filsafat penciptanya.


Dari beberapa pengertian diatas dapat dipeoleh pengertian, bahwa manusia adalah makhluk yng memiliki kelengkapan jasmani dan rohani. Dengan kelengkapan jasmaninya, ia dapat melaksanakan tugas-tugas yang memerlukan dukungan fisik, dan kelengkapan rohaninya, ia dapat melaksanakan tugas-tugas yang memerlukan dukungan mental, dan manusia pada dasarnya adalah jinak, dapat menyesuaikan diri dengan realitas hidup dan linkungan yang ada. Manusia memiliki kemampuan yang tinggi untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya, baik perubahan social maupun perubahan alamah. Manusia menghargai tata aturan etik, sopan santun, dan sebagai makhluk yang berbudaya, manusia tudak liar, baik secara sosial maupun alamiah.

B. Manusia Sebagai Makhluk Rasional Normatif Islam, Paham Monoisme dan Dualisme


Manusia sebagai makhluk rasional normative Islam menganut dua faham, yaitu:

1. Faham Monoisme


Faham monoisme pada hakikatnya sama dengan faham aliran serba zat। Faham monoisme ini mengatakan yang sungguh-sungguh ada itu hanyalah zat atau materi, alam ini adalah zat atau materi dan manusia adalah unsur dari alam. Maka dari itu hakikat dari manusia itu adalah zat atau materi. Aliran monoisme juga menganggap bahwa seluruh semesta termasuk manusia hanya terdiri dari, satu asas, satu zat. Faham yang mendasarkan wujud realita ini bersumber atau terbentuk dari satu zat.


2. Faham Dualisme


Faham Dualisme menganggap bahwa manusia pada hakikatnya terdiri dari dua substansi yaitu jasmani dan rohani., badan dan ruh. Kedua substansi ini masing-masing merupakan unsur asal yang adanya tidak tergantung satu sama lain. Jadi badan tidak berasal dari ruh juga sebaliknya ruh tidak berasal dari badan. Hanya dalam perwujudannya, manusia itu serba dua, jasad dan ruh yang keduanya itu berintegrasi membentuk yang disebut manusia. antara badan dan ruh terjalin hubungan yang bersifat kausal, sebab akibat. Artinya antara keduanya saling pengaruh mempengaruhi. Apa yang terjadi disatu pihak akan mempengaruhi dipihak yang lain.

C. Dimensi Kekuatan Psikis Manusia Sebagai Makhluk Berbudaya (Normatif Islam dan Tinjauan Psikologi-Antropologi).


Manusia adalah merupakan makhluk individual sekaligus sebagai makhluk sosial, Sebagai makhluk sosial dalam upaya pencapaian kebutuhannya manusia harus berhadapan dengan manusia lain yang juga mempunyai kepentingan untuk memenuhi kebutuhan individualnya, sehingga kerap terjadi suatu konflik kepentingan antara manusia, sebagai jalan tengah akhirnya dimunculkan suatu nilai bersama yang disebut dengan etika bersama. Etika bersama inilah yang kemudian secara turun temurun menjadi suatu norma bersama dan akhirnya berkembang menjadi budaya.


Dalam bahasa latin budaya (colore) diartikan mengelola tanah yaitu segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat tinggalnya atau dapat pula diartikan sebagai usaha manusia untuk dapat melangsungkan dan mempertahankan hidupnya di dalam lingkungan. Budaya dapat pula diartikan sebagai himpunan pengalaman yang dipelajari, mengacu pada pola-pola prilaku yang disebarkan secara sosial, dan akhirnya menjadi kekhususan kelompok sosial tertentu.


Setiap kebudayaan berakar pada sudut pandang serta pola penyikapan kelompok sosial tertentu terhadap apa yang dibutuhkannya. Itu semua tak terlepas pada kondisi alam lingkungannya, sehingga terjadilah perbadaan antara sudut pandang timur dan sudut pandang barat. Alam lingkungan yang subur menghasilkan berbagai kekayaan hayati dan non hayati yang menyediakan pemenuhan atas kebutuhan fiilnya telah membentuk budaya timur menjadi budaya yang berpola tidak kompetitif, kurang kreatif dan cenderung kooperatif. Sedangkan alam yang tidak subur akan menghasilkan budaya yang kreatif dalam mencari pemecahan konflik pemenuhan kepuasan fiil, dan cenderung bersaing secara individualistik.

D. Pandangan Hidup Islam: Kedudukan dan Peran Manusia Sebagai Hamba dan Khalifah, Dihadapan Allah SWT, Manusia dan Alam Semesta.


Manusia adalah makhluk tuhan yang diciptakan dengan bentuk raga yang sebaik-baiknya dan rupa yang seindah-indahnya dilengkapi dengan berbagai organ psikofisik yang istimewa seperti panca indra dan hati agar manusia bersyukur kepada Allah yang telah menganugrahi keistimewaan-keistimewaan itu. Secara lebih rinci keistimewaan-keistimewaan yang dianugrahkan kepada manusia antara lain adalah kemampuan berfikir untuk memahami alam semesta dan dirinya sendiri, akal untuk memahami tanda-tanda keagungannya, nafsu yang paling rendah sampai yang tertinggi kalbu untuk mendapat cahaya tertinggi, dan ruh yang kepadanya Allah SWT mengambil kesaksian manusia.


Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa Allah SWT menciptakan manusia bukan secara main-main, melainkan dengan suatu tujuan dan fungsi penciptaan manusia itu dapat diklasifikasikan kepada dua, yaitu:

  1. Khalifah


Al-Qur’an menegakan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai pengemban amanah. Diantara amanah yang di bebankan kepada manusia memakmurkan kehidupan dibumi. Karna amat mulianya manusia sebagai pengemban amanat Allah, maka manusia diberi kedudukan sebagai khalifahnya dimuka bumi.

Menurut Ahmad musthafa Al-Maraghi, kata khalifah itu memiliki dua makna:

Ø Pengganti, yaitu pengganti Allah SWT untuk melaksanakan titahnya dimuka bumi.

Ø Manusia adalah pemimpin yang kepadanya diserahi tugas untuk memimpin diri dan makhluk lainnya serta memakmurkan dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan. Dalam konteks ini Muhammad Iqbal, mengemukakan bahwa sebagai khalifah, allah SWT telah memberikan mandat kepada manusia menjadi penguasa untuk mengatur bumi dan segala isinya. Kesemua ini merupakan “kekuasaan” dan wewenang yang bersifat umum yang diberikan Allah kepadanya sebagai khalifah untuk memakmurkan kehidupan dibumi.


Salah satu implikasi terpenting dari kekhalifahan manusia dimuka bumi ini adalah pentingnya kemampuan untuk memahami alam semesta tempat ia hidup dan menjalankan tugasnya. Manusia mempunyai kemungkinan untuk hal ini dikarenakan kepadanya dianugrahkan Allah berbagai potensi dan merupakan tangnggung jawab moral manusia untuk mengolah dan memanfaatkan seluruh sumber-sumber yang tersedia dialam ini guna memenuhi keperluan hidupnya. Oleh karena itu manusia diharapkan mampu mempertahankan martabatnya sebagai khalifah Allah yang hanya tunduk kepadanya dan tidak akan tunduk kepada alam semesta. Konsep ini bermakna bahwa orientasi hidup seorang muslim hanyalah semata-mata ditujukan kepada Allah SWT.

  1. ‘Abd (Hamba)


Menurut M. Quraish Shihab dan Al-Ragib al-Asfihani makna dalam konsep hamba Allah adalah terangkum dlam konsep dasar yaitu:

Ø Kepemilikan

Ø पेंगाब्दियन

Berangkat dari konsep ini, maka manusia hamba Allah, hrus menyadari bahwa kepemilikan mutlak atas dirinya berada pada Allah. Atas dasar status kepemilikian dasr tersebut, maka selaku hamba manusia ditetapkan untuk mengemban tanggung jawab pengbdian pemiliknya.


Konsep ‘Abd mengacu pada tugas-tugas individual manusia sebagai hamba Allah. Tugas ini diwujudkan dalam bentuk pengabdian ritual kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan. Pemenuhan fungsi ini memerlukan penghayatan agar seorang hamba sampai kepada tingkat religiusitas dimana tercapainya kedekatan diri dengan Allah SWT. Bila tingkat ini berhasil diraih, maka seorang hamba akan bersikap tawadhu, tidak arogan dan senantiasa pasrah pada semua titah perintah Allah SWT (tawaqqal).


Dalam al-Qur’an, kedudukan manusia dialam semesta dibagi menjadi dua fungsi pokok, yaitu sebagai khalifah dan abd. Agar manusia mampu melaksanakan tugas dan fungsi penciptaannya, maka manusia dibekali Allah SWT dengan berbagai potensi atau kemampuan. Potensi dan kemampuan itu disebut sebagai sifat-sifat Tuhan yang tersimpul dalam al-Qur’an denagn nama-nama yang indah (Asma’ul Husna).


Manusia sebagai hamba Allah, adalah manusia yng memiliki sosok pribadi yang taat asas, dan tahu menempatkan dirinya pada statusnya sebagai seorang hamba terhadap pemiliknya, yaitu Allah Swt. Dengan demikian dalam menjalani kehidupannya, sebagai hamba Allah, dalam kondisi yang bagaimanapun ia senantiasa akan menempatkan dirinya dalam jalur dan arah kehidupan yang diridhoi Allah.

E. Hakikat manusia dan pendidikan


Secara hakikat manusia dibagi menjadi dua, yaitu hakikat raga dan hakikat jiwa. Raga manusia memiliki banyak kesamaan dengan makhluk hidup yang lain, yaitu unsur fisik amupun kimiawi. Raga manusia dituntut untuk tumbuh dan berkembang menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Seorang bayi mengalami proses penyempurnaan diri, mulai dari ketidakmampuan menggenggam samapai dengan kemampuan memasukkan makanan kedalam mulutnya. Hal ini menandakan ada proses perkembangan bagian tangan untuk menunjang gerak motorik si bayi.


Proses pendidikan adalah proses perkembangan yang bertujuan. Tujuan proses perkembangan itu secara alamiah adalah kedewasaan dan kematangan. Sebab potensi manusia yang paling alamiah adalah bertumbuh menuju ke tingkat kedewasaan dan kematangan. Potensi ini akan terwujud apabila prakondisi alamiah dan social manusia memungkinkan, misalnya: iklim, makanan, kesehatan, keamanan, dll.


Manusia kemudian melihat kenyataan, bahwa tidak semua manusia berkembang sebagaimana diharapkan. Lahirlah di dalam pemikiran manusia problema-problema tentang kemungkinan-kemungkinan perkembangan manusia itu. Sesungguhnya adanya aktifitas dan lembaga-lembaga pendidikan merupakan jawaban manusia atas problema itu. Karena umat manusia berkesimpulan dan yakin bahwa pendidikan itu mungkin dan mampu mewujudkan potensi manusia. Maka pendidikan itu diselenggarakan.

BAB III

KESIMPULAN

Ada tiga konsep yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk makna manusia, yaitu al-Basyar, al-Insan, dan al-Nas.


Kata al-Basyar, dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 surat. Secara etimologi al-Basyar berarti kulit kepala, wajah, atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut .


Kata al-insan yang berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 75 kali dan tersebar daam 43 surat. Secara etimologi, al-insan dapat diartikan harmonis, lemah lembut, tampak, atau pelupa.


Kata al-Nas dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali dan tersebar sebanyak 53 surat. Kata al-Nas menunjukan pada eksistensi manusia sebagai makhluk social secara keseluruhan, tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya.


Manusia sebagai makhluk rasional normative Islam menganut dua faham, yaitu: Faham Monoisme, Faham monoisme pada hakikatnya sama dengan faham aliran serba zat. Faham monoisme ini mengatakan yang sungguh-sungguh ada itu hanyalah zat atau materi. Faham Dualisme menganggap bahwa manusia pada hakikatnya terdiri dari dua substansi yaitu jasmani dan rohani., badan dan ruh.


Dimensi kekuatan psikis manusia sebagai makhluk berbudaya (normatif islam dan tinjauan psikologi-antropologi). Manusia adalah merupakan makhluk individual sekaligus sebagai makhluk sosial Sebagai makhluk sosial dalam upaya pencapaian kebutuhannya manusia harus berhadapan dengan manusia lain yang juga mempunyai kepentingan untuk memenuhi kebutuhan individualnya, sehingga kerap terjadi suatu konflik kepentingan antara manusia, sebagai jalan tengah akhirnya dimunculkan suatu nilai bersama yang disebut dengan etika bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Faruqi, Ismail Raji’, Islam dan Kebudayaan, Bandung, Mizan, 1984

Harun Nasution, Islam Rasional, Bandung, Mizan, 1995

Hasan Langgulung, Manusia dan pendidikan, Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1989

http://maspungky.multiply.com/journal/item/47

http://lincholn.blogspot.com/2008/08/eksistensi-manusia-konsep-dasar-manusia.html

Nata, Abudin, Filsafat Pendidikan Islam 1, Jakarta, Logos, 1987

Nizar, Samsul, Fisafat Pendidikan Islam, Jakarta, Ciputat Pres, 2002

Shihab, Quraish, Membumikan Al-Qur’an, Bandung, Mizan, 1994

Taneji, Filsafat Pendidikan, Jakarta, Daras, 2003

Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara,1984

1 komentar: