Minggu, 18 September 2011

Filsafat Al-Farabi

BAB I

PENDAHULUAN

Al-Farabi adalah penerus tradisi intelektual al-Kindi, tapi dengan kompetensi, kreativitas, kebebasan berpikir dan tingkat sofistikasi yang lebih tinggi lagi. Jika al-Kindi dipandang sebagai seorang filosof Muslim dalam arti kata yang sebenarnya, Al-Farabi disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasar piramida studi falsafah dalam Islam yang sejak itu terus dibangun dengan tekun. Ia terkenal dengan sebutan Guru Kedua dan otoritas terbesar setelah panutannya Aristoteles. Ia termasyhur karena telah memperkenalkan dokrin “Harmonisasi pendapat Plato dan Aristoteles”. Ia mempunyai kapasitas ilmu logika yang memadai. Di kalangan pemikir Latin ia dikenal sebagai Abu Nashr atau Abunaser.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Riwayat Hidup Al-Farabi

Al-Farabi nama lengkapnya adalah Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Auzalagh, yang biasa disingkat saja menjadi al-Farabi. Ia dilahirkan diwasij, distrik farab, Turkistan pada tahun 257H/ 870M. ayahnya seorang jendral berkebangsaan Persia dan ibunya berkebangsaan Turki. Oleh sebab itu, terkadang ia dikatakan keturunan Persia dan terkadang ia dikatakan keturunan Turki.

Menurut beberapa literature, Al-Farabi dalam usia 40 tahun pergi ke Baghdad, sebagai pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia dikala itu. Ia belajar kaidah-kaidah bahasa arab kepada abu bakar al-saraj dan belajar logika serta filsafat kepada seorang Kristen, Abu Bisyr Mattius ibnu Yunus. Kemudian ia pindah keharran, pusat kebudayaan Yunani diasia kecil dan berguru kepada Yuhanna ibnu jailan. Akan tetapi, tidak beberapa lama ia kembali ke Baghdad untuk memperdalam ilmu filsafat.diantara muridnya yang terkenal adalah Yahya ibnu Adi, filosof Kristen.

Pada tahun 330H/ 945M, ia pindah ke Damaskus dan berkenalan dengan Saif Al-Daulah Al-Hamdani, sultan dinasti Hamdan di Aleppo. Sultan tampaknya amat terkesan dengan kealiman dan keintelektualan al-farabi, lalu diajaknya pindah ke Aleppo. Akhirnya pada bulan Desember 950M filosof Muslim besar ini menghembuskan nafasnya yang terakhir di Damaskus dalam usia 80 tahun.

Sebagaimana filosof yunani, Al-Farabi menguasai berbagai disiplin ilmu. Berdasarkan karya tulisnya, filosof muslim keturunan Persia ini menguasai matematika, kimia, astronomi, musik, ilmu alam, logika, filsafat, bahasa, dan lain-lainnya.

Al-Farabi dalam dunia intelektual islam mendapat kehormatan dengan julukan al-Mu’allim al-sany (guru kedua). Penilaian ini dihubungkan dengan jasanya sebagai penafsir yang baik dari logika Aristoteles.

B. Karya-karya Al-Farabi

Di antara karya tulis Al-Farabi yang terpenting adalah:

1. Syuruh Risalah Zainun al-Kabir al-yunani,

2. Al-Taliqat,

3. Risalah fima Yajibu Ma’rifat QablaTa’allumi al-Falsafah,

4. Kitab Tahshil al-Sa’adah

5. Risalah fi Itsbat al-Mufaraqat

6. ‘U’yun al-Masa’il

7. Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah,

8. Ihsha al-Ulum wa al-Ta’rif bi Aghradiha

9. Maqalat fi Ma’ani al-Aql

10. Fushul al-Hukm,

11. Risalah al-Aql

12. Al-Siyasah al-Madaniyah

13. Al-Masail al-Falsafiyah wa al-Ajwibah ‘anha

14. Al-Ibnah’an Ghardi Aristo fi Kitabi ma Ba’da al-Thabi’ah.

C. Filsafatnya

1. Rekonsiliasi Al-Farabi

Al-Farabi berusaha memadukan beberapa aliran filsafat (Al-Falsafah At-Taufiqiyah atau Wahdah Al-Falsafah) yang berkembang sebelumnya, terutama pemikiran plato, aristoteles dan plotinus, juga antara agama dan filsafat. Karena itu ia dikenal sebagai filusuf sinkretisme yang mempercayai kesatuan filsafat. Dalam ilmu logika dan fisika, ia dipengaruhi oleh Aristoteles. Dalam masalah akhlak dan politik, ia dipengaruhi oleh Plato. Sedangkan dalam masalah metafisika, ia dipengaruhi oleh Plotinus.

Al-Farabi mempertemukan dua filsafat yang berbeda seperti halnya Plato dan aristoteles mengenai idea. Aristoteles tidak mengakui bahwa hakikat itu adalah idea, karena apabila hal tersebut diterima berarti alam realitas ini tidak lebih dari alam khayal atau sebatas pemikiran saja. Sedangkan Plato mengakui idea sebagai suatu hal yang berdiri sendiri dan menjadi hakikat segala-galanya. Al-Farabi menggunakan interpretasi batini, yakni dengan menggunakan at-ta'wil bila menjumpai pertentangan pikiran antara keduanya. Menurut al-farabi, sebenarnya aristoteles mengakui alam rohani yang terdapat diluar alam ini. Jadi filusuf tersebut, sama-sama mengakui adanya idea-idea pada zat tuhan.

Adapun perbedaan agama dan filsafat, tidak mesti ada karena keduanya mengacu kepada kebenaran, dan kebenaran itu hanyalah satu, kendatipun posisi dan cara memperoleh kebenaran itu berbeda, satu menawarkan kebenaran dan lainnya mencari kebenaran. Tetapi kebenaran yang terdapat pada keduanya adalah serasi karena bersumber dari akal aktif. Kebenaran yang diperoleh filusuf dengan perantaraan akal mustafad, sedangkan Nabi melalui perantaraan wahyu.

2. Ketuhanan

Al-Farabi dalam pembahasan tentang ketuhanan mengompromikan antara filsafat Aristoteles Neo-Platonisme, yakni al-Maujud al-Awwal sebagai sebab pertama bagi segala yang ada. Konsep ini tidak bertentangan dengan ke Esaan yang mutlak dalam ajaran Islam.

Dalam membuktikan adanya Allah Al-Farabi mengemukakan dalil Wajib Al-Wujud dan Mukmin Al-Wujud.

Adapun yang dimaksud dengan Wajib Al-Wujud adalah wujudnya tidak boleh tidak mesti ada, ada dengan sendirinya, karena naturnya sendiri yang menghendaki wujudnya. Wajib al-Wujud inilah yang disebut dengan Allah.

Sementara itu, yang dimaksud dengan Mukmin Al-Wujud ialah sesuatu yang sama antara berwujud dan tidaknya. Mukmin Al-Wujud tidak akan berubah menjadi wujud aktual tanpa adanya wujud yang menguatkan dan yang menguatkan adanya itu bukan dirinya, tetapi adalah Wajib Al-Wujud (Allah). Tentang sifat-sifat Allah Al-Farabi sejalan pendapatnya dengan Mu'tazilah, yakni sifat-sifat Allah tidak berbeda dengan substansinya. Sebaliknya jika sifat-sifat Allah itu berada dengan substansi-Nya maka bersifat qadim.

Untuk tahu atau yakin terhadap esensi wujud Allah, menurut Al-Farabi, tidak perlu dengan menambahkan sifat-sifat tertentu pada zat Allah. Hal ini disebabkan pengetahuan tentang zat Allah lebih nyata dan yakin dari pengetahuan kita terhadap yang selain-Nya. Sebab Allah adalah wujud yang paling sempurna, maka pengetahuan tentang dia adalah pengetahuan yang paling sempurna pula.

Allah bagi Al-Farabi, adalah 'Aql murni. Ia Esa adanya dan menjadi objek pemikiran-Nya hanya substansi-Nya. Ia tidak memerlukan sesuatu yang lain untuk memikirkan substansi-Nya sendiri. Jadi Allah adalah 'Aql, 'Aqil, dan Ma'qul (Akal, substansi yang berfikir, dan substansi yang difikirkan).

Tentang ilmu Allah, pemikiran Al-Farabi terpengaruh oleh Aristoteles yang mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui dan tidak memikirkan alam. Pemikiran ini dikembangkan oleh Al-Farabi dengan mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui yang juz'iyyat. Allah sebagai akal yang jelas hanya dapat menangkap yang kully (universal), sedangkan untuk mengetahui yang juz'i hanya dapat ditangkap dengan panca indra. Oleh karena itu, pengetahuannya tentang juz'i tidak secara langsung, melainkan lewat kulli yang ia sebagai sebab bagi yang juz'i.

Tentang asma al-husna, menurut Al-Farabi, kita boleh saja menyebutkan nama-nama tersebut sebanyak yang kita inginkan, tetapi nama tersebut tidak menunjukan adanya bagian-bagian pada zat Allah atau sifat-sifat yang berbeda dari zat-Nya.

3. Emanasi

Al-Farabi menemui kesulitan dalam menjelaskan bagaimana terjadinya yang banyak (alam) yang bersifat materi dari Esa (Allah) jauh dari materi dan maha sempurna. Al-Farabi menggunakan teori Neo-Platonisme-monistik tentang emanasi. Filsafat yunani seperti aristoteles, menganggap bahwa tuhan bukanlah pencipta alam, melainkan sebagai penggerak pertama (prima causa). Sedangkan dalam doktrin mutakallimin, tuhan adalah pencipta yang menciptakan dari tiada menjadi ada. Bagi Al-Farabi, tuhan menciptakan sesuatu dari bahan yang sudah ada secara pancaran. Tuhan menciptakan alam semenjak zaman azali dengan materi alam berasal dari energy yang qadim. Sedangkan susunan materi yang menjadi alam adalah baru.

Proses emanasi itu sebagai berikut; tuhan sebagai akal berpikir tentang diri-nya dan dari pemikirinnya ini timbul satu maujud lain. Tuhan merupakan wujud pertama (al-wujud al-awwal) dan dengan pemikiran itu timbul wujud kedua (al-wujud al-tsani) yang juga mempunyai subtsani. Ia disebut akal pertama (al-‘Aql al-awwal, first intelegence) yang tidak bersifat materi (jauhar ghair mutajassim ashlam wa la fi madah). Wujud kedua ini berpikir tentang wujud pertama, dan dari pemikiran itu timbul wujud ketiga (al-wujud al-tsalis) disebut akal kedua (al-‘aql al-tsani, second intelligence). Wujud kedua atau akal pertama ini juga bepikir tentang dirinya, dan dari situ timbul langit pertama (al-asma’ al-ula, first heaven)

Wujud 3/akal 2 - Tuhan = wujud 4/akal 3

- dirinya = bintang-bintang

Wujud 4/akal 3 - Tuhan = wujud 5/akal 4

- dirinya = saturnus

wujud 5/ akal 4 - Tuhan = wujud 6/akal 5

- dirinya = Jupiter

wujud 6/ akal 5 - Tuhan = wujud 7/akal 6

- dirinya = Mars

wujud 7/ akal 6 - Tuhan = wujud 8/akal 7

- dirinya = Matahari

wujud 8/ akal 7 - Tuhan = wujud 9/akal 8

- dirinya = Venus

wujud 9/ akal 8 - wujud 10/ akal 9

- dirinya = Mercury

wujud 10/ akal 9 - Tuhan = wujud 11/akal 10

- dirinya = Bulan

Pada pemikiran wujud 11/akal 10 berhentilah terjadinya akal-akal. Tetapi dari akal 10 muncullah bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur yakni api, udara, air, dan tanah. Dengan demikian, ada 10 akal dan 9 langit (dari teori yunani tentang 9 langit (spehere) yang kekal berputar sekitar bumi). Akal 10 mengatur dunia yang ditempati manusia ini. Akal 10 ini disebut juga ‘Aql fa’al (akal aktif) atau wajib al-shuwar (pemberi bentuk) dan terkadang disebut jibril yang mengurusi kehidupan di bumi.

Al-farabi mengklasifikasikan yang wujud kepada dua rentetan, yaitu:

1. Rentetan wujud yang esensinya tidak berfisik. Termasuk dalam hal ini varisat yang tidak menempati fisik (Allah, akal pertama, dan ‘Uqaul al-Aflak), serta yang tidak berfisik tetapi bertempat pada fisik (jiwa, bentuk, dan materi).

2. Rentetan wujud yang berfisik, yaitu benda-benda langit, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda tambang, dan unsure yang empat (air, udara, tanah, dan api).

Tujuan al-Farabi mengemukakan teori emanasi tersebut untuk menegaskan ke Maha Esaan Tuhan. Karena tidak mungkin Esa berhubungan dengan yang tidak Esa atau banyak. Andaikata alam diciptakan secara langsung, mengakibatkan tuhan berhubungan dengan yang tidak sempurna, dan ini menodai ke Esaan-Nya. Jadi, dari Tuhan yang Maha Esa hanya muncul satu, yakni akal pertama yang berfungsi sebagai perantara dengan yang banyak.

Disamping itu, tuhan juga, bagi Al-Farabi tidak mempunyai kehendak, karena hal itu membawa kepada ketidak-sempurnaan, termasuk melimpahnya yang banyak dari diri-Nya secara sekaligus, dan itu tidak terjadi dalam waktu. Dari pendapat ini al-Farabi hanya menyatakan alam adalah taqaddum zamani, bukan taqaddum zatti.

4. Jiwa

Jiwa manusia beserta materi asalnya memancar dari akal kesepuluh. Jiwa adalah jauhar rohani sebagai form bagi jasad. Kesatuan keduanya merupakan kesatuan secara accident, artinya masing-masing keduanya mempunyai substansi yang berbeda dan binasanya jasad tidak membawa binasa pada jiwa. Jiwa manusia disebut dengan al-nafs al-nathiqah, berasal dari alam ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalq, berbentuk, berupa, berkadar, dan bergerak. Jiwa diciptakan tatkala jasad siap menerimanya.

Bagi Al-Farabi, jiwa manusia mempunyai daya-daya sebagai berikut:

a. Daya al-Muharrikat (gerak)

b. Daya al-Mudrikat (mengetahui)

c. Daya an-Nathiqat (berfikir)

Daya teoritis terdiri dari tiga tingkat berikut:

a. Akal potensial (al-Hayulani)

b. Akal Aktual (al-'Aql bi al-fi'l)

c. Akal Mustafad (al-'Aql al-Mustafad)

Tentang bahagia dan sengsaranya jiwa, Al-Farabi mengaitkan dengan filsafat negara utamanya. Bagi jiwa yang hidup pada negara utama, yakni jiwa yang kenal dengan Allah dan melaksanakan perintah Allah, maka jiwa ini menurut Al-Farabi akan kembali ke alam nufus dan abadi dalam kebahagiaan. Jiwa yang hidup pada negara fasiqah, yakni jiwa yang kenal dengan Allah, tetapi ia tidak melaksanakan segala perintah Allah, ia kembali ke alam nufus dan abadi dalam kesengsaraan. Sementara itu, jiwa yang hidup pada negara jahilah, yakni jiwa yang tidak kenal sama sekali dengan Allah dan tidak pula pernah melakukan perintah Allah, ia lenyap bagaikan jiwa hewan.

5. akal

Akal menurut Al-Farabi, ada tiga jenis: pertama, Allah sebagai akal. kedua, akal-akal dalam filsafat emanasi dari satu sampai sepuluh. Ketiga, akal yang terdapat pada diri manusia. Akal pada jenis pertama dan kedua tidak berfisik (imateri/ rohani) dan tidak menempati fisik, namun antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat tajam. Allah sebagai akal adalah pencipta dan esa semutlak-mutlaknya, Maha sempurna dan tidak mengandung pluralitas sebagai zat yang Esa, maka objek ta'aqqul Allah hanya satu, yakni zat-Nya. Jika diandaikan objek ta'aqqul Allah lebih dari satu, maka pada diri Allah terjadi pluralitas.Hal ini bertentangan dengan prinsip tauhid.

Adapun akal jenis kedua, yakni akal-akal pada filsafat emanasi, akal pertama esa pada zat-Nya, tetapi dalam dirinya mengandung keanekaragaman potensial.

Akal jenis ketiga ialah akal sebagai daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Akal jenis ini juga tidak berfisik, tetapi bertempat pada materi. Akal ini bertingkat-tingkat, yang terdiri dari akal potensial, akal aktual, akal mustafad. Akal yang disebut terakhir ini yang dimiliki para filosof yang dapat menangkap cahaya yang dipancarkan Allah ke alam materi melalui akal kesepuluh (akal fa'al).

6. Moral

Al-Farabi menekankan empat jenis sifat utama yang harus menjadi perhatian untuk mencapai kebahagiaan didunia dan diakhirat bagi bangsa-bangsa dan setiap warga negara, yakni:

a. keutamaan teoritis, yaitu prinsip-prinsip pengetahuan yang diperoleh sejak awal tanpan diketahui cara dan asalnya, juga yang diperoleh dengan kontemplasi, penelitian dan melalui belajar dan mengajar.

b. keutamaan pemikiran, adalah yang memungkinkan orang mengetahui hal-hal yang bermanfaat dalam tujuan.

c. Keutamaan akhlak, bertujuan mencari kebaikan. Jenis keutamaan ini berada dibawan dan menjadi syarat keutamaan pemikiran. Kedua jenis keutamaan tersebut, terjadi dengan tabiatnya dan bisa juga terjadi dengan kehendak sebagai penyempurna tabiat atau watak manusia.

d. Keutamaan amaliyah, diperoleh dengan dua cara, yaitu pernyataan-pernyataan yang memuaskan dan merangsang. Cara lain adalah pemaksaan.

Selain keutamaan diatas al-Farabi menyarankan agar bertindak tidak berlebihan yang dapat merusak jiwa dan fisik, atau mengambil posisi tengah-tengah.

7. Negara Utama/ Politik

Manusia menurut al-farabi bersifat sosial yang tidak mungkin hidup sendiri-sendiri. Manusia hidup bermasyarakat dan bantu-membantu untuk kepentingan bersama dalam mencapai tujuan hidup. Masyarakat menurutnya, terbagi menjadi dua macam, yakni masyarakat sempurna dan masyarakat tidak sempurna. Masyarakat yang disebut pertama, yakni masyarakat kelompok besar, bisa berbentuk masyarakat kota, bisa pula masyarakat yang terdiri dari beberapa bangsa yang bersatu dan bekerja sama secara internasional. Sementara itu, masyarakat yang disebut kedua, seperti masyarakat dalam satu keluarga atau masyarakat se desa. Masyarakat yang terbaik adalah warga masyarakat yang bekerja sama, saling membantu untuk mancapai kebahagiaan. Masyarakat seperti ini di sebut dengan masyarakat utama.

Melalui bukunya yang fundamental Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Al-Farabi membagi Negara atau pemerintahan menjadi Negara utama (alMadinah al-Fadhilah), Negara Jahil (al-Madinah al-Jahilah), Negara Sesat (al-Madinah al-dhalah), Negara Fasik (al-Madinah al-Fasiqah), dan Negar Berubah (al-Madinah al-Mutabadilah). Akan tetapi bahasan Al-Farabi lebi terfokus pada Negara utama.

Negara utama, sebagai satu masyarakat yang sempurna (al-mujtami al-kamilah), dalam arti masyarakat yang sudah lengkap bagian-bagiannya, diibaratkan oleh Al-Farabi sebagai organisme tubuh manusia dengan anggota yang lengkap. Masing-masing organ tubuh harus bekerja sesuai dengan fungsinya. Fungsi utama dalam filsafat politik atau pemerintahan Al-Farabi adlah fungsi jantung (al-qalb) didalam tubuh manusia. Kepala Negara merupakan sumber seluruh aktivitas, sumber peraturan, dan keselarasan hidup dalam masyarakat.

Menurut Al-Farabi, Kepala Negara haruslah yang paling unggul, baik dalam bidang intelektual maupun moralnya diantara yang ada. Disamping daya profetik yang dikaruniakan tuhan kepadanya, ia harus memiliki kualitas-kualitas berupa: kecerdasan, ingatan yang baik, pikiran yang tajam, cinta pada pengetahuan, sikap moderat dalam hal makanan, minuman seks, cinta pada kejujuran, kemurahan hati, kesederhanaan, cinta pada keadilan, ketegaran dan keberanian, serta kesehatan jasmani dan kefasihan berbicara.[1] Pemikiran Al-Farabi tentang kenegaraan tersebut terkesan ideal sebagaimana halnya konsepsi yang ditawarkan oleh plato.

Keunggulan filsafat pemerintahan Al-Farabi ini terletak pada tujuan pemerintahan yang hendak dicapai, yakni kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, peranan kepala pemerintahan sangat menentukan, yang tidak hanya ia berfungsi sebagai penyelenggara Negara dalam urusan material rakyatnya, tetapi ia juga berfungsi sebagai pendidik dan pengajar rakyatnya dalam urusan spiritual.

8. Teori tentang kenabian

Sifat utama seorang nabi menurut al farabi ialah nabi memilki daya imajinasi yang melaluinya dapat berhubungan langsung dengan intelegensi agen dikala tidur dan jaga, dan dapat mencapai visi dan inspirasi. Adapun wahyu hanyalah suatu pemancaran dari tuhan melalui intelegensi agen.

Didalam daya imajinasilah tercipta gambaran-gambaran mental yang sesuai dengan dunia spiritual. Karena itu orang yang sedang tidur menyaksikan alam ghaib dan bisa merasakan kenikmatan atau kesengsaraan. Imajinasi bisa juga naik kedunia langit dan berhubungan dengan intelegensi agen sehingga ia bisa menerima keputusan langit tentang masalah-masalah dan kejadian-kejadian tertentu. Melalu hubungan ini, yang bisa terjadi siang ataupun malam, kenabian dapat diterangkan karena ia merupakan sumber mimpi yang benar dan wahyu.

Menurut Alfarabi, bila imajinasi begitu kuat dan sempurna pada diri seseorang dan sepenuhnya teratasi oleh perasaan-perasaan luar maka ia dapat berhubungan dengan intelegensi agen, yang darinya tercerminlah gambaran-gambaran yang paling indah dan sempurna. Siapapun yang melihat gambaran-gambaran tersebut, ia akan menyaksikan keagungan tuhan-Nya.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dapat diketahui bahwa doktrin alfarabi sangat selaras dan konsisten, tiap-tiap bagiannya benar-benar saling terkait. Doktrin alfarabi merupakan pencerminan abad pertengahan, tetapi ia mengandung gagasan modern dan kontemporer. Ia senang terhadap ilmu pengetahuan, menganjurkan experiman dan menolak peramalan dan astrologi. Ia mempercayai sepenuhnya sebab akibat dan takdir, sehingga ia mengetahui adanya sebab-sebab meskipun terhadap efek-efek yang tak jelas sebabnya. Ia mengangkat akal ketingkat yang sedemikian suci sehingga ia terdorong untuk mendamaikannya dengan tradisi sehingga tercapai kesesuaian antara filsafat dan agama.

REFERENSI


Sirajuddin Zar ,Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 65-67

Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), h. 33-34 MM Syarif, para filusuf Muslim, (Bandung: Mizan, 1963),h. 73-75


1 komentar: