Sabtu, 17 September 2011

Muhammad Iqbal

BAB I
PENDAHULUAN


Ada anggapan bahwa sejarah filsafat Islam secara praktis berakhir bersaman dengan kematian Ibnu Rusyd. Setelah itu, sampai terjadinya invasi Mongol, dunia Islam hanya menghasilkan para komentator, tanpa cetusan-cetusan kreatif dan orisinil. Namun, anggapan itu dipatahkan oleh kenyataan bahwa sampai periode Safawi, kreatifitas intelektual Islam mengalami perkembangan yang begitu pesat dan mencapai kematangannya di kalangan orang-orang Syi’ah Persia. Pada batas tertentu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa jenis filsafat yang khas Islami justru baru berkembang setelah Ibnu Rusyd, bukan sebelumnya.

Muhammad Iqbal, dari sisi pemikirannya tentang ego, ketuhanan, materi dan kausalitas, moral, dan insane al-kamil. Semua pemikiran yang digali oleh Muhammad, sebagaimana yang digali pemikir lain, harus tetap didudukan sebagai pemikiran dan hukum yang mesti kita kembalikan pada dalil-dalil syariat. Dalam kerangka berpikir semacam itulah, tulisan mengenai biografi dan pemikiran Muhammad Iqbal dipaparkan.

BAB II
PEMBAHASAN
MUHAMMAD IQBAL
1. BIOGRAFI

Muhammad Iqbal seorang filsuf, ahli hokum, pemikir politik, dan reformasi muslim lahir pada bulan Dzulhijjah 1289 H, atau 22 Februari 1873 M di Sialkot. Ia mulai pendidikannya pada masa kanak-kanak pada ayahnya. Nur Muhammad yang dikenal seorang ulama. Kemudian Iqbal mengikuti pelajaran al-Qur’an dan pendidikan Islam lainnya secara klasik di sebuah surau. Selanjutnya, Iqbal dimasukkan oleh ayahnya ke Scotch Mission College agar ia mendapat bimbingan dari Maulawi Mir Hasan seorang yang ahli bahasa Persia dan Arab.

Pada tahun 1895 ia pergi ke Lahore, salah satu kota India yang menjadi pusat kebudayaan, pengetahuan dan seni. Iqbal bergabung dengan perhimpunan sastrawan yang sering di undang musya’arah, yakni pertemuan-pertemuan dimana para penyair membacakan sajak-sajaknya. Di kota Lahore, sambil melanjutkan pendidikan sarjananya ia mengajar filsafat di Government College. Pada tahun 1897 Iqbal memperoleh gelar B.A , kemudian ia mengambil program M.A dalam bidang filsafat.

Iqbal menjadi terkenal sebagai salah seorang pengajar yang berbakat dan penyair di Lahore. Sajak-sajaknya banyak diminati orang. Pada tahun 1905, ia study di Cambridge pada R.A Nicholson seorang spesialis dalam sufisme. Iqbal kemudian belajar di Munich dan Heidelberg. Di Munich dia menyelesaikan doktornya pada tahun 1908. Setelah mendapatkan gelar doctor, ia kembali ke London untuk belajar di bidang keadvokatan sambil mengajar bahasa dan kesusastraan Arab di Universitas London.

Pada tahun 1908, Iqbal kembali ke Lahore dan mengajar di Government College dalam mata kuliah filsafat dan sastra Inggris. Untuk beberapa tahun ia sempat menjabat Dekan Fakultas Kajian-Kajian Ketimuran dan ketua Jurusan Kajian-Kajian Filosofis. Selain itu, Iqbal juga menjadi anggota dalam komisi-komisi yang meneliti masalah perbaikan pendidikan di India. ini semua tidak berlangsung lama. Ia beralih profesi dalam bidang hokum. Profesi ini digelutinya hingga ia sering sakit tahun 1934, empat tahun sebelum ia meninggal dunia. Di samping itu ia meneruskan kegemarannya dalam menulis prosa dan puisi. Dalam tulisan-tulisannya, Iqbal berusaha megkombinasikan apa yang dipelajarinya di Timur dan di Barat.

Dalam bidang politik, Iqbal juga mengambil bagian, bahkan menjadi tulang punggung partai Liga Muslim India. pada tahun 1926 ia terpilih menjadi anggota Majelis Legislatif di Punjab, sementara itu kegiatannya di Liga Muslim tidak terhenti. Pada tahun 1930 ia menjadi Presiden Liga Muslim India.

Sepanjang hayatnya, Iqbal tetap menghembuskan semangat juang dan seruan terhadap kebebasan dan penentangan terhadap segala macam penindasan dan kelaliman. Sajak-sajaknya juga mengandung dorongan untuk menghadapi kehidupan ini dengan penuh harapan, keteguhan dan perjuangan yang gigih. Muhammad Iqbal meninggal pada usia 60 tahun 21 April 1938.

2. KARYANYA

Diperkirakan Muhammad Iqbal meninggalkan karya monumental, diantaranya yaitu:
a) Ilm al-Iqtisad (1903)
b) Development of Metaphysics in Persia: A Constribution to the History of Muslim Philosofy (1908)
c) Islam is a Moral and Political Ideal (1909)
d) Asra-I Khudi ( Rahasia Pribadi) (1915)
e) Rumuz-I Bekhudi (Rahasia Peniadaan Diri) (1918)
f) Payam-I Masyriq (Pesan dari Timur) (1923)
g) Bang-I Dara (Serua dari Perjalanan) (1924)
h) Self in the Light of Relativity Speechees and Statement of Iqbal (1925)
i) Zaboor-I ‘Ajam (Kidung Persia) (1927)
j) Khusal Khan Khattak (1928)

3. FILSAFATNYA

a. Ego atau Khudi

Khudi arti harfiahnya ego atau self atau individualitas, merupakan suatu kesatuan yang riil atau nyata, adalah pusat dan landasan dari semua kehidupan, merupakan suatu iradah kreatif yang terarah secara rasional. Arti terarah secara rasional, menjelaskan bahwa hidup bukanlah suatu arus yang tak berbentuk, melainkan suatu prinsip kesatuan yang bersifat mengatur. Iqbal menerangkan bahwa khudi merupakan pusat dan landasan dari keseluruhan kehidupan.

Iqbal berpendapat bahwa ego harus berjuang mempertahankan individualitas dan memperkuatnya. Tujuan ego bukan membebaskan diri dari batas-batas invidualitas, melainkan memberi batasan tentang dirinya dengan lebih tegas. Tujuan terakhir ego, bukanlah melihat sesuatu, tetapi menjadi sesuatu. Di dalam ego menjadi sesuatu itulah ia menemukan kesempatan untuk mempertajam pandangan obyektif dan mencapai ‘aku’ yang fundamental, yang memperoleh relitas dirinya . Pencarian ego adalah pencarian untuk mendapatkan definisi yang lebih tepat mengenai dirinya. Tindakannya bukan hanya tindakan intelektual, melaikan suatu tindakan vital yang memperdalam seluruh wujud ego, serta mempertajam kemauannya dengan keyakinan kreatif, bahwa dirinya ini bukanlah sesuatu yang hanya melihat atau dikenal melalui konsep demi konsep, melainkan sesuatu yang harus dibangun dan dibangun kembali dengan kerja yang tidak putus-putusnya. Inilah saat kebahagiaan tertinggi bagi ego.

Iqbal membandingkan watak ego dengan watak alam. Menurutnya alam bukanlah sebuah kematerialan murni yang mengisi sebuah rongga, akan tetapi ia merupakan suatu struktur peristiwa–peristiwa, suatu tata cara laku yang sistematis, sama organisnya dengan ego yang hakiki. Alam bagi ego Ilahiyat sama dengan watak bagi ego manusia. Dengan bahasa al-Quran “alam adalah tata laku Allah”. Dengan demikian dari sudut pandang manusia, merupakan suatu penafsiran bahwa alam adalah kegiatan kreatif dari Ego Yang Mutlak.

Untuk memperkuat ego dibutuhkan cinta (intuisi) dan ketertarikan, sedangkan yang memperlemahnya adalah ketergantungan pada yang lain. Untuk mencapai kesempurnaan ego maka setiap individu mesti menjalani tiga tahap. Pertama, setiap individu harus belajar mematuhi dan secara sabar tunduk kepada kodrat makhluk dan hukum-hukum ilahiah. Kedua, belajar berdisiplin dan diberi wewenang untuk mengendalikan dirinya melalui rasa takut dan cinta kepada Tuhan seraya tidak bergantung pada dunia. Ketiga, menyelesaikan perkembangan dirinya dan mencapai kesempurnaan spiritual (Insan Kamil).

b. Ketuhanan

Pemahaman Iqbal tentang ketuhanan mengalami tiga tahap perkembangan, dari tahap pencarian sampai ke tahap kematangan. Ketiga tahap itu adalah:

Tahap Pertama: Pada tahap ini Iqbal meyakini Tuhan sebagai Keindahan Abadi, keberadaanNya tanpa tergantung pada sesuatu dan mendahului segala sesuatu, bahkan menampakkan diri dalam semuanya itu. Dia menyatakan dirinya di langit dan di bumi, di matahari dan di bulan, di semua tempat dan keadaan. Tuhan sebagai Keindahan Abadi, menarik segala sesuatu, seperti magnet menarik besi, Tuhan juga sekaligus menjadi penyebab gerak segala sesuatu. Kekuatan pada benda-benda, daya tumbuh pada tanaman, naluri pada binatang buas, dan kemauan pada manusia hanyalah sekedar bentuk daya tarik, cinta untuk Tuhan. Karena itu, Keindahan Abadi adalah sumber, esensi dan ideal segala sesuatu. Tuhan bersifat universal dan melingkupi segalanya seperti lautan.

Tahap Kedua: Pada tahap ini Iqbal tertarik kepada Rumi yang dijadikan sebagai pembimbing ruhaninya. Pada tahap ini, Tuhan bukan lagi dianggap sebagai Keindahan Luar, tetapi sebagai Kemauan Abadi, sementara keindahan hanyalah sebagai sifat Tuhan di samping ke-Esa-an Tuhan. Karena itu Tuhan menjadi asas rohaniah tertinggi dari segala kehidupan. Tuhan menyatakan diriNya bukan dalam dunia yang terindera, tetapi dalam pribadi terbatas. Karena itu usaha mendekatkan diri kepadaNya hanya dimungkinkan lewat pribadi. Dengan menemukan Tuhan, seseorang tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan menjadi tiada. Sebaliknya, manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya, menyerap sebanyak mungkin sifat-sifatNya.

Tahap Ketiga: Pada tahap ini merupakan pengembangan menuju kematangan konsepsi Iqbal tentang ketuhanan. Tuhan adalah hakikat sebagai suatu keseluruhan. Hakikat sebagai suatu keseluruhan pada dasarnya bersifat sepiritual, tegasnya merupakan suatu Ego Mutlak, karena Dia meliputi segalanya, tidak ada sesuatu pun di luar Dia. Dia merupakan sumber segala kehidupan dan sumber dari mana ego-ego bermula, yang menunjang adanya kehidupan itu.

c. Materi dan Kausalitas

Menurut Iqbal materi adalah suatu kelompok ego-ego berderajat rendah, dan dari sana muncul ego yang berderajat lebih tinggi, apabila penggabungan dan interaksi mereka mencapai suatu derajat kordinasi tertentu. Fakta yang berderajat lebih tinggi muncul dari yang lebih rendah, tidaklah mengurangi nilai dan kehormatannya. Yang menjadi masalah bukanlah asal, tetapi kesanggupan, arti dan pencapaian terakhir dari pemunculannya itu.

Iqbal berpendapat bahwa system sebab akibat merupakan suatu ‘alat’ yang perlu sekali bagi ego, dan bukanlah merupakan gambaran yang sebenarnya tentang sifat realitas. Sebab sebenarnya rantai perhubungan sebab akibat di mana kita mencari suatu tempat untuk ego, yaitu suatu bentuk artificial ego untuk kepentingan ego sendiri. Ego diharuskan berada di suatu lingkungan yang kompleks, dan dia tidak dapat terus hidup tanpa mengubahnya menjadi suatu system, yang dapat menjamin bahwa tata laku hal-hal di sekelilingnya sesuai untuk dirinya. Dengan menafsirkan alam seperti ini, ego dapat menguasai lingkungannya, dan dengan demikian dapai mencapai keluasan dalam arti meningkatkan kualitas.

Iqbal selalu menekankan bahwa kodrat kehidupan ego selalu berproses, yang berarti juga selalu ada perkembangan ego, yang berjuang meningkatkan dirinya ke arah individualitas yang lebih kompleks dan lebih sempurna.

d. Moral

Manusia mempunyai kemungkinan yang tidak terbatas, mempunyai kemampuan untuk mengubah dunia dan dirinya sendiri, serta mempunyai kemampuan untuk ikut memperindah dunia. Sudah menjadi tanggung jawab manusia untuk mengambil bagian dengan cita-cita yang lebih tinggi dari alam sekitarnya dan turut menentukan nasibnya sendiri. Manusialah yang dapat mengambil inisiatif menyiapkan diri dalam mengahadapi tantangan alam dan mengerahkan seluruh kekuatannya supaya dapat mempergunakan tenaga-tenaga alam itu untuk tujuannya sendiri. Sesungguhnya ilmulah yang mengadakan hubungan-hubungan ini, dan ilmu adalah persepsi-inderawi yang diolah dengan pemahaman dan pengertian. Dengan bersenjatakan pengetahuan, manusia berkenalan dengan aspek kebenaran yang dapat diselidiki. Usaha pikiran mengatasi rintangan yang disebabkan oleh alam. Manusia yang akan mempertahankan hidupnya dalam suatu lingkungan yang penuh rintangan , tak dapat mengabaikan hal-hal yang terlihat oleh mata, dan tak dapat mengabaikan tentang adanya perubahan.

Menurut Iqbal moral tidak hanya berdasarkan persepsi inderawi saja, tetapi juga harus dilengkapi dengan persepsi al-Qur’an di sebut Qalb. Kerja hati adalah untuk menguraikan masalah-masalah kejiwaan, mistik dan kegaiban. Fakta pengalaman religious/mistik adalah sama dengan fakta pengalaman manusia dan penafsiran yang dihasilkan oleh pengetahuan. Sifat-sifat pengalaman religious/mistik menurut Iqbal terbagi menjadi 4, yaitu Pertama, pengalaman langsung. Kedua, Keseluruhan pengalaman mistik tak dapat diuraikan. Ketiga, suasana miistis merupakan penggabungan antara ego insane dengan Ego Yang Maha Kuasa. Keempat, suasana mistis lebih bersifat perasaan daripada pikiran. .

e. Insan Al-Kamil

Iqbal menafsirkan Insan al-Kamil atau ‘manusia utama’ yaitu setiap manusia potensial adalah suatu mikrokosmos, dan bahwa insane yang telah sempurna kerohaniannya menjadi cermin dari sifat-sifat Tuhan, sehingga sebagai orang suci dia menjadi khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi.

Manusia dengan segala kelemahannya masih lebih tinggi daripada alam. Sudah tentu perjalanan hidupnya mempunyai suatu awal, namun ia mungkin telah ditakdirkan untuk menjadi unsure permanen dalam susunan wujud ini. Ketika tertarik oleh kekuatan-kekuatan yang ada di sekitarnya, manusia sanggup membentuk dan berusaha untuk menguasainya.
Setiap manusia merupakan suatu pribadi atau suatu ego yang berdiri sendiri, tetapi belumlah ia menjadi pribadi yang utama. Dia yang dekat kepada Tuhan adalah yang utama. Semakin dekat semakin utama. Sedangkan semakin jauh jaraknya dari Tuhan, kian berkurang bobot kepribadiannya. Pribadi sejati bukan saja menguasai alam benda, tetapi juga dilingkupi sifat-sifat Tuhan ke dalam egonya sendiri.

Adapun tentang kehidupan adalah proses yang terus maju ke depan dan esensinya ialah penciptaan terus menerus dari gairah dan cita-cita. Penciptaan gairah dan cita-cita yang baru tentulah selamanya mewujudkan ketegangan-ketegangan yang konstan. Menurut Iqbal tujuan seluruh kehidupan adalah membentukinsan yang mulia, dan setiap pribadi haruslah berusaha untuk mencapainya. Cita-cita untuk membentuk manusia utama ini, memberikan kepada ukuran ‘baik’ dan ‘buruk’. Apa yang dapat memperkuat pribadi adalah baik sifatnya dan apa yang melemahkan pribadi adalah buruk sifatnya.

Hal-hal yang dapat memperkuat menurut Iqbal adalah cinta kasih, semangat atau keberanian, toleransi, tenggang rasa, dan sikap tidak mengharapkan imbalan yang akan diberikan dunia. Sedangkan hal-hal yang melemahkan pribadi adalah takut, suka minta-minta, perbudakan dan sombong.

DAFTAR PUSTAKA

Nasution. Hasyimisyah, Filsafat Islam, Jakarta, Gaya Media Pratama Jakarta, 1999.
http://coretanpojok.blogspot.com/2010/04/muhammad-iqbal-sang-filsuf-dari-timur.html
http://www.zimbio.com/member/joesafira/articles/1sfwr1jT7Hn/Riwayat+Hidup+Muhammad+Iqbal

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar