Selasa, 20 September 2011

‘Ariyah dan Hiwalah

A. ‘ARIYAH

1. Pengertian ‘Ariyah

Kata ‘ariyah atau ‘aariyah berasal dari kata kerja, yaitu ‘aara yang artinya “datang dan pergi dengan cepat”, bukan berasal dari akar kata al-‘aar yang artinya “aib”. sebagian pendapat, 'aariyah berasal dari kata at ta'awur yang sama artinya dengan at tanaawul aw at tanaawub (saling tukar dan mengganti), yakni dalam tradisi pinjam meminjam.

‘Ariyah menurut bahasa artinya pinjaman. Sedangkan menurut istilah ‘ariyah yaitu memberikan atau menggunakan hak pakai suatu barang selama waktu tertentu untuk diambil manfaatnya tanpa merusak atau mengurangi nilai barang itu. Kegiatan ini merupakan suatu kebajikan yang disunahkan dalam agama, karena sifatnya tolong menolong.

Menurut Hanafiyah, ‘ariyah ialah:

ﺗﻤﻠﻴﻚ١ﻟﻤﻨﺍﻓﻊ ﻣﺤﺍﻧﺍ

“Memiliki manfaat secara Cuma-Cuma”

Menurut malikiyah, ‘ariyah ialah:

ﻻﺑﻌﻮض ﻣﻨﻔﻌﺖ ﺗﻤﻠﻴﻚ

“Memiliki manfaat dalam waktu tertentu dengan tanpa imbalan.

Menurut syafiiyah, ‘ariyah adalah:

ﺇ ﺑﺎ ﺣﺕ ﺍﻻ ﻧﺘﻔﺎ ﻉ ﻣﻦ ﺷﺨﺺ ﻔﻴﻪ ﺃ ﻫﻠﻴﺖﺍﻠﺗﺒﺭﻉ ﺒﻪ ﺒﻘﺄ ﻋﻴﻨﻪ ﻟﻴﺭﺩ ﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻠﻤﺘﺒﺭﻉ

“Kebolehan mengambil manfaat dari sesorang yang membebaskannya, apa yang mungkin untuk dimanfaatkan, serta tetap zat barangnya supaya dapat dikembalikan kepada pemiliknya.”

Menurut Hanbaliyah, ‘ariyah ialah:

إﺑﺍﺣﺔ ﻧﻔﻊ١ﻟﻔﻴﻦ ﺑﻔﻴﺮﻋﻮﺽ ﻣﻦ١ﻟﻤﺳﺘﻌﺮﺃﻭﻏﻴﺮە

“kebolehan memanfaatkan suatu zat barang tanpa imbalan dari peminjam atau yang lainnya.”

Menurut Ibnu Rif’ah, ‘ariyah yaitu memperbolehkan mengambil manfaat terhadap apa yang dibolehkan syara’ memanfaatkannya dengan syarat kekal zatnya untuk dikembalikan kepada yang punya.

Para Fuqaha mendefinisikan ‘ariyah yaitu izin yang diberikan oleh pemilik barang kepada orang lain untuk memanfaatkan barang miliknya tanpa imbalan.

Jadi yang dimaksud dengan ‘ariyah yaitu secara hukum memberikan manfaat suatu barang pada seseorang tanpa hak memiliki oleh orang tersebut dan tanpa juga merusak barang itu hingga hilang manfaatnya.

2. Dasar Hukum ‘ariyah

Asal hukum ‘ariyah yaitu mustahabbah (dianjurkan), sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“…Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa…”

Dan juga sabda Nabi SAW.,:

والله فى عون العبد ما كان العبد فى عون اخيه

“Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut mau menolong saudaranya.”

۱ﻥ ﺭﺳﻮﻻﷲ ﺻﻠﻌﻢ۱ﺳﺎﻣﻦﺃﺑﻰ ﻁﻠﺤﺔ ﻓﺮﻛﺒﺔ (ﺭﻭﻩﺍﻟﺒﺧﺭﻯﻭﻣﺴﻟﻡ)

“Rasullah meminjam kuda abi tholib dan mengendarainya.” ( HR. Bukhori).

Dalam suatu riwayat ada dijelaskan bahwa Nabi pernah meminjam baju Abu sufyan dengan suatu jaminan, tidak dengan jalan merampas dan tanpa izin. Berdasarkan dengan hadits diatas ulama fiqh mengatakan bahwa ‘ariyah hukumanya Mandub( ﻣﻨﺩﻮﺏ ) karena melakukan ‘ariyah merupakan salah satu bentuk ketaatan ( ﺗﻌﺒﺩ ) kepada Allah SWT.

3. Rukun dan Syarat ‘Ariyah

Menurut Hanafiyah, rukun ‘ariyah satu, yaitu ijiab, sedangkan qabul bukan merupakan rukun ariyah.

Menurut Syafiiyah, rukun ariyah adalah sebagai berikut:

a. lafadzh shighat akad, yakni ucapan ijab daan qabul dari peminjam dan yang meminjamkan barang pada waku transaksi sebab memanfaatkan milik barang bergantung pada adanya izin. Seperti seseorang berkata, “saya utangkan benda ini kepada kamu” dan yang menerima berkata “ saya mengaku berutang benda anu kepada kamu.” Syarat bendanya adalah sama dengan syarat benda-benda dalam jual beli.

b. Mu’ir yaitu orang yang mengutangkan (berpiutang) dan Mus’tair yaitu orang yang menerima utang. Syarat bagi mu’ir adalah pemilik yang berhak menyerahkannya, sedangkan syarat-syarat bagi mus’tair adalah:

· Baligh

· Berakal

c. Benda yang diutangkan, pada rukun ketiga ini disyaratkan dua hal, yaitu:

· Materi yang dipinjamkan dapat dimanfaatkan, maka tidak syah ariyah yang matwrinya tidak dapat digunakan, seperti meminjam karung yang sudah hancur sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpan padi.

· Pemanfaatan itu dibolehkan, maka batal ariyah yang pengambilan manfaat materinya dibatalkan oleh syara, seperti meminjam benda-benda najis.

Secara umum, jumhur ulama fiqih menyatakan bahwa rukun ‘ariyah ada empat, yaitu:

a. Mu'ir (orang yang meminjamkan)

Syaratnya:

· Baligh

· Berakal sehat

Dengan demikian, orang gila dan anak kecil yang tidak berakal tidak dapat meminjamkan barang.

b. musta’ir (orang yang meminjam)

· Baligh

· Berakal sehat

c. Mu’ar (barang yang dipinjam)

Syaratnya:

· Barang yang benar-benar ada manfaatnya

· Sewaktu diambil manfaatnya, zatnya tetap (tidak rusak)

d. Shighat, yakni sesuatu yang menunjukkan kebolehan untuk mengambil manfaat, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

B. HIWALAH

1. Pengertian Hiwalah

Kata hiwalah terkadang dengan haa di fathah dan terkadang dikasrah. Hiwalah diambil dari kata tahwil (memindahkan) atau dari kata al-ha-uul, dikatakan: haala ‘anil ‘ahdi idzaa intaqalab’anhu ha’uulan (berpindah dari janji).

Hiwalah menurut bahasa artinya pindah. Sedangkan hiwalah menurut istilah, yaitu pemindahan piutang dari satu tanggungan kepada tanggungan yang lain. Menurut hakikatnya, hiwalah merupakan penukaran piutang dengan piutang yang lain.

Dalam buku lain, hiwalah yaitu apabila seseorang mempunyai hak (tagihan) terhadap orang lain lalu orang lain itu memindahkan tanggung jawabnya (pembayarannya) kepada seseorang lain lagi yang dia mempunyai hak (tagihan) pula terhadapnya (hiwalah) maka tidak wajib atas orang yang pertama itu (muhal) menerima hiwalah ini.

2. Dasar Hukum Hiwalah

Yang menjadi dalil berlakunya hiwalah yaitu hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwasanya Nabi Muhammad SAW,. bersabda:

مطل الغني ظلم واذا اتبع احدكم على ملئ فليتبع

penundaan hutang dari orang kaya adalah penganiayaa. Apabila salah seorang diantara kamu dipindahi hutang kamu terhadap orang kaya, hendaklah kamu mengikuti. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain:

واذا احيل احدكم على ملئ فليحتل

jika salah seorang diantara kamu dipindahi hutang kamu kepada orang kaya, hendaklah kamu menerima pemindahan itu.” (Riwayat Ahmad Al-Baihaqi).”

3. Rukun Hiwalah

Rukun hiwalah ada enam, yaitu:

a. Muhil (orang yang berhutang dan berpiutang)

b. Muhtal (orang yang berpiutang)

c. Muhal ‘alaih (orang yang berhutang)

d. Utang muhil kepada muhtal

e. Utang muhtal ‘alaih kepada muhil

f. Shigat (lafadz akad)

4. Syarat Hiwalah

Memindahkan suatu tanggungan (utang) kepada orang lain, dibolehkan dengan empat syarat:

a. Kerelaan orang yang menanggung dan penerimaan ornagn yang diberi pertanggungan

b. Kepastian hutang

c. Persesuaian hutang

d. Lepasnya pertanggungan dari orang yang hutang.


Sumber Referensi

Moch Anwar, Terjemahan Fathul Muin Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1994), h. 965

http://hndwibowo.blogspot.com/2008/06/ariyah.html

Nawawi Rambe, Fiqh Islam, (Jakarta: Duta Pahala, 1994), h. 475

http://www.anakciremai.com/2009/02/makalah-fiqih-tentang-ariyah.html

Syarifuddin Anwar dan Mishbah Musthafa, Terjemah Kifayatul Akhyar Fii Halli Ghayatil Ikhtishar”, (Surabaya: CV. Bina Iman, 1994), h. 654

Team Tashfiyah LIPIA, Panduan Fiqh Lengkap “terjemah al-wajiz”, (Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2007), h. 609

http://www.canboyz.co.cc/2010/03/makalah-ariyah-dan-pengertiannya.html

http://www.anakciremai.com/2009/02/makalah-fiqih-tentang-ariyah.html

Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo, 1994), h. 323-324

Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Hukum-hukum Fiqh Islam, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1997), h. 385

Abdul Fatah Idris dan Abu Ahmadi, Fiqh Islam Lengkap, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1994), h. 149

1 komentar: