Senin, 04 Mei 2009

TEORI BELAJAR PSIKOLOGI HUMANIS

BAB I

PENDAHULUAN


Perhatian Psikologi Humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu di pengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Menurut para pendidik aliran humanistik penyusunan dan penyajian materi pelajarannya harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.

Belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Dan tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.

Adapun dalam makalah ini, kami akan membahas Teori Psikologi Humanis yang akan dijelaskan mulai dari tokoh-tokoh penting dalam aliran humanistik dan teorinya yang relevan dengan psikologi pendidikan, dan diakhiri dengan implikasi dan aplikasi psikologi humanistik dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Prinsip Dasar Psikologi Humanistik

Pada akhir tahun 1940-an muncullah sesuatu perspektif psikologi baru. Orang-orang yang terlibat dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam perkembangan ini, misalnya ahli-ahli psikologi klinik dan pekerja-pekerja sosial, bukan merupakan hasil penelitian dalam bidang proses belajar. Gerakan ini berkembang, dan kemudian dikenal sebagai psikologi humanistik, eksestensial, perceptual, atau fenomenologikal. Psikologi berusaha untuk memahami prilaku seseorang dari sudut si pelaku (behaver), bukan dari pengamat (observer).

Dalam dunia pendidikan, aliran humanistik muncul pada tahun 1960 -1970-an dan mungkin perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi selama dua dekade yang terakhir pada abad 20 ini pun juga akan menuju pada arah ini.[1]

Psikologi humanistik atau disebut juga dengan nama psikologi kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkah laku manusia, yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia.[2]

Dalam Teori-teori belajar sebelumnya, sejauh ini telah menekankan peranan lingkungan dan faktor-faktor kognitif dalam proses belajar-mengajar. Walaupun teori ini secara jelas menunjukkan bahwa belajar di pengaruhi oleh siswa-siswa yang bepikir dan bertindak, teori-teori tersebut juga jelas-jelas di pengaruhi dan diarahkan oleh arti pribadi dan perasaan-perasaan yang mereka ambil dari pengalaman belajar mereka sendiri.

Kemudian ahli psikologi humanistik ini berpandangan bahwa orang yang ”merasa”, sama pentingnya dengan orang yang bertingkah laku atau berpikir. Mereka menggambarkan tingkah laku sebagai perkembangan aktualisasi diri (self actualization) dari seorang dengan bidang apa saja yang mereka pilih. Guru humanistik menekankan sesuatu yang kreatif pada lingkungan pendidikan yang membantu perkembangan diri, bekerjasama, dan berkomunikasi positif dengan siswa, karena percaya bahwa kondisi ini akan membantu siswa belajar lebih keras.[3]

Adapun Prinsip dasar Teori Belajar Psikologi Humanistik, diantaranya:

· Memahami manusia sebagai suatu totalitas. Oleh karenanya sangat tidak setuju dengan usaha untuk mereduksi manusia, baik ke dalam formula S-R yang sempit dan kaku (behaviorisme) ataupun ke dalam proses fisiologis yang mekanistis. Manusia harus berkembang lebih jauh daripada sekedar memenuhi kebutuhan fisik, manusia harus mampu mengembangkan hal-hal non fisik, misalnya nilai ataupun sikap.

· Metode yang digunakan adalah life history, berusaha memahami manusia dari sejarah hidupnya sehingga muncul keunikan individual.

· Mengakui pentingnya personal freedom dan responsibility dalam proses pengambilan keputusan yang berlangsung sepanjang hidup. Tujuan hidup manusia adalah berkembang, berusaha memenuhi potensinya dan mencapai aktualitas diri. Dalam hal ini intensi dan eksistensi menjadi penting. Intensi yang menentukan eksistensi manusia

· Mind bersifat aktif, dinamis. Melalui mind, manusia mengekspresikan keunikan kemampuannya sebagai individu, terwujud dalam aspek kognisi, willing, dan judgement. Kemampuan khas manusia yang sangat dihargai adalah kreativitas. Melalui kreativitasnya, manusia mengekspresikan diri dan potensinya.

· Pandangan humanistik banyak diterapkan dalam bidang psikoterapi dan konseling. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman diri.[4]

B. Aliran Teori Humanistik

Bagi penganut teori ini, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Dari keempat teori belajar, teori humanistik inilah yang paling abstrak, yang paling mendekati dunia filsafat dari pada dunia pendidikan.

Dalam praktek, teori ini antara lain terwujud dalam pendekatan yang diusulkan oleh Ausubel (1968) yang disebut juga “belajar bermakna” atau meaningful learning. Teori ini juga terwujud dalam teori Bloom dan Krathwohl dalam bentuk taksonomi Bloom. Selain itu empat pakar lain yang juga termasuk dalam kubu ini adalah Kolb, Honey, Mumfrod, serta Habermas, yang masing-masing pendapatnya akan dibahas berikut ini:

  1. Bloom dan Karthwohl

Bloom dan Karthwohl menunjukan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa, yang tercakup dalam tiga kawasan berikut:

a. Kognitif

Kognitif terdiri dari enam tingkatan, yaitu:

Ø Pengetahuan (mengingat, menghafal)

Ø Pemahaman (menginterpretasikan)

Ø Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah)

Ø Analisis (menjabarkan suatu konsep)

Ø Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh)

Ø evaluasi (membandingkan nilai, ide, metode dan sebagainya)

b. Psikomotor

Psikomotor terdiri dari lima tingkatan, yaitu:

Ø Peniruan (menirukan gerak)

Ø Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)

Ø Ketetapan (melakukan gerak dengan benar)

Ø Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar)

Ø Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)

c. Afektif

Afektif terdiri dari lima tingkatan, yaitu:

Ø Pengenalan (ingin menerima, sadae akan adanya sesuatu)

Ø Merespon (aktif berpartisipasi)

Ø Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia pada nilai-nilai tertentu)

Ø Pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai yang dipercayai)

Ø Pengalaman (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup)

Taksonomi Bloom ini, seperti yang kita telah ketahui, berhasil memberikan inspirasi kepada banyak pakar lain untuk mengembangkan teori-teori belajar dan pembelajaran. Selain itu, Teori Bloom juga banyak dijadikan pedoman untuk membuat butir-butir soal ujian, bahkan digunakan oleh orang-orang yang mengkritik taksonimi tersebut. Kritikan atas klasifikasi dan kemampuan yang dikemukakan Bloom ternyata diperbaiki oleh para pakar pendidikan dengan mengadakan revisi pada aspek kognitif. Dalam klasifikasi taksonominya pada aspek kogntif , Bloom mengemukakan enam tingkatan kemampuan yang meliputi: Pengetahuan, Pemahaman, Penerapan, Analisis, Sintesis dan evaluasi.

  1. Kolb

Kolb membagi tahapan kepada empat tahap:

  1. Pengalaman kongkrit
  2. Pengamatan aktif dan reflektif
  3. Konseptualisasi
  4. Eksperimentasi aktif

Pada tahap paling dini dalam proses belajar, seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian. Ia belum mempunyai kesadaran tentang hakikat kejadian tersebut. Ia pun belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperti itu. Ini lah yang terjadi pada tahap pertama proses belajar.

Pada tahap kedua, siswa tersebut lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya. Inilah yang kurang lebih terjadi pada tahap pengamatan aktif dan reflektif.

Pada tahap ketiga, siswa mulai belajar untuk membuat abstraksi atau ”teori” tentang suatu hal yang pernah diamatinya. Pada tahap ini, siswa diharapkan sudah mampu untuk membut aturan-aturan umum (generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda, tetapi mempunyai landasan aturan yang sama.

Pada tahap akhir (eksperimentasi aktif), siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru.

Menurut Kolb, siklus belajar semacam itu terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung diluar kesadaran siswa

  1. Honey dan Mumford

Berdasar teori kolb ini, honey dan mumford membuat penggolongan siswa. Menurut mereka, ada empat macam atau tipe siswa, yakni:

a. Aktivis

Ciri siswa yang bertipe aktivis adalah mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru, mereka cenderung berfikiran terbuka dan mudah diajak berdialog. Tetapi, siswa semacam ini kurang skeptis terhadap sesuatu.

b. Reflektor

Siswa yang bertipe Reflektor, sebaliknya, cenderung sangat berhati-hati dalam mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusan, siswa tipe ini cenderung “konservatif”, dalam arti mereka suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruknya suatu keputusan.

c. Teoritis

Siswa yang bersifat teoritis biasanya sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subyektif. Bagi mereka berfikir secara rasional adalah suatu yang sangat penting.

d. Pragmatis

Siswa yang bersifat pragmatis biasanya menaruh perhatian besar pada aspek- aspek praktis dari segala hal. Namun kebanyakan dari siswa ini tidak suka berlarut-larut dalam membahas suatu teori. Karna bagi mereka, sesuatu atau teori dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bisa diperaktekan.

  1. Habermas

Habermas memandang bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Dengan asumsi ini Habermas mengelompokan tipe belajar menjadi tiga bagian, yaitu:

a. Belajar teknis (technical learning), yaitu bagaimana siswa belajar berinteraksi dengan alam sekelilingnya.

b. Belajar praktis (practical learning), yaitu siswa juga belajar berinteraksi, tetapi pada tahap ini yang lebih dipentingkan adalah interaksi antara dia dengan orang-orang yang ada disekitarnya.

c. Belajar emansipatoris (emancipatori learning). Yaitu Siswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang transformasi cultural dari suatu lingkungan. Bagi Habermas, pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi cultural ini dianggap tahap belajar yang paling tinggi, sebab transformasi cultural inilah yang dianggap sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi.[5]

C. Tokoh-Tokoh Humanisme

Ada beberapa tokoh yang menonjol dalam aliran humanistik seperti: Combs, Maslow dan Rogers;

1. Biografi

Abraham Maslow (1908 - 1970)

Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi dan merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Masa muda Maslow berjalan dengan tidak menyenangkan karena hubungannya yang buruk dengan kedua orangtuanya. Semasa kanak-kanak dan remaja Maslow merasa bahwa dirinya amat menderita dengan perlakuan orang tuanya, terutama ibunya.

Keluarga Maslow amat berharap bahwa ia dapat meraih sukses melalui dunia pendidikan. Untuk menyenangkan kemauan ayahnya, Maslow sempat belajar di bidang Hukum tetapi kemudian tidak dilanjutkannya. Ia akhirnya mengambil bidang studi psikologi di University of Wisconsin, dimana ia memperoleh gelar Bachelor tahun 1930, Master tahun 1931, dan Ph.D pada tahun 1934.

Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Dalam teori psikologinya, yakni semakin tinggi need achievement yang dimiliki seseorang semakin serius ia menggeluti sesuatu itu.

Carl Ransom Rogers dilahirkan di Oak Park, Illinois, pada tahun 1902 dan wafat di LaJolla, California, pada tahun 1987. Semasa mudanya, Rogers tidak memiliki banyak teman sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Dia membaca buku apa saja yang ditemuinya termasuk kamus dan ensiklopedi, meskipun ia sebenarnya sangat menyukai buku-buku petualangan. Ia pernah belajar di bidang agrikultural dan sejarah di University of Wisconsin. Pada tahun 1928 ia memperoleh gelar Master di bidang psikologi dari Columbia University dan kemudian memperoleh gelar Ph.D di dibidang psikologi klinis pada tahun 1931. Pada tahun 1931, Rogers bekerja di Child Study Department of the Society for the prevention of Cruelty to Children (bagian studi tentang anak pada perhimpunan pencegahan kekerasan tehadap anak) di Rochester, NY. Pada masa-masa berikutnya ia sibuk membantu anak-anak bermasalah atau nakal dengan menggunakan metode-metode psikologi. Pada tahun 1939, ia menerbitkan satu tulisan berjudul “The Clinical Treatment of the Problem Child”, yang membuatnya mendapatkan tawaran sebagai profesor pada fakultas psikologi di Ohio State University. Dan pada tahun 1942, Rogers menjabat sebagai ketua dari American Psychological Society.

Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik assessment dan pendapat para terapist bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment kepada klien. [6]

2. Teori Belajar Humanistik

  1. Combs

Combs dan kawan-kawan menyatakan apabila kita ingin memahami prilaku orang kita harus mencoba memahami dunia persepsi itu. Apabila kita ingin mengubah prilaku seseorang, kita harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan orang itu, prilaku dalamlah yang membedakan seseorang dari yang lain. Combs dan kawan-kawan selanjutnya mengatakan bahwa prilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari tidak kemauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.

Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada learing, ialah:

1) Pemerolehan Informasi Baru,

2) Personalisasi Informasi, ini pada individu.

Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajaran (subject matter-nya) disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada subject matter itu, dengan kata lain di individulah yang memberikan arti tadi pada subject matter itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana caranya membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari subject matter itu. Dan bagaimana siswa itu menghubungkan subject matter itu dengan kehidupannya.

Sebagai contoh, guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.[7]

Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.[8]

Adapun dalam pembahasan lain Combs menjelaskan bagaimana persepsi ahli-ahli psikologi dalam memandang tingkah laku. Untuk mengerti tingkah laku manusia, yang penting adalah mengerti bagaimana dunia ini dilihat dari sudut pandangnya. pernyataan ini adalah salah satu dari pandangan humanistik mengenai perasaan,persepsi, kepercayaan,dan tujuan tingkah laku dari dalam (inner) yang membuat orang berbeda dari orang lain. Untuk mengerti orang lain, yang penting adalah melihat dunia sebagai yang ia lihat, dan untuk menentukan bagaimana orang berpikir,merasa tentang dia atau tentang dunianya.

Ahli psikologi menyatakan bahwa untuk mengubah tingkah laku seseorang harus mengubah persepsi individu. Combs menyatakan bahwa tingkah laku menyimpang adalah “ akibat yang tidak ingin dilakukan, tapi dia tau bahwa dia harus melakukan”. [9]

  1. Maslow

Teori Maslow didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri kita ada dua hal:

1) Suatu usaha yang positif untuk berkembang

2) Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.

Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya. Tetapi mendorong untuk maju ke arah kebutuhan, keunikan diri, kearah berfungsinya kemampuan, kearah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri.[10]

Maslow berpendapat, bahwa manusia memiliki hierarki kebutuhan yang dimulai dari Kebutuhan jasmaniah yang paling asasi sampai dengan kebutuhan tertinggi yakni kebutuhan estetis. Diantaranya: 1) Kebutuhan jasmaniah seperti makan, minum, tidur dan sex menuntut sekali untuk dipuaskan. Apabila kebutuhan ini terpuaskan, maka munculah 2) Kebutuhan keamanan seperti kebutuhan kesehatan dan kebutuhan terhindar dari bahaya dan bencana. Berikutnya adalah 3) Kebutuhan untuk memiliki dan cinta kasih, seperti dorongan untuk memiliki kawan dan berkeluarga, kebutuhan untuk menjadi anggota kelompok, dan sebagainya. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan ini dapat mendorong seseorang berbuat lain untuk memperoleh pengakuan dan perhatian, misalnya dia menggunakan prestasi sebagai pengganti cinta kasih. Berikutnya adalah 4) Kebutuhan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihargai, dihormati, dan dipercaya oleh orang lain.

Apabila seseorang telah dapat memenuhi semua kebutuhan yang tingkatannya lebih rendah tadi, maka motivasi lalu diarahkan kepada terpenuhinya 5) Kebutuhan aktualisasi diri, yaitu mengoptimalkan kemampuan diri untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Untuk mengembangkan potensi atau bakat dan kecenderungan tertentu. Bagaimana cara aktualisasi diri ini tampil, tidaklah sama pada setiap orang. Sesudah kebutuhan ini, muncul 6) Kebutuhan untuk tahu dan mengerti, yakni dorongan untuk mencari tahu, memperoleh ilmu dan pemahaman. Sesudahnya, Maslow berpendapat adanya 7) Kebutuhan estetis, yakni dorongan keindahan, dalam arti kebutuhan akan keteraturan, kesimetrisan dan kelengkapan. Maslow membedakan antara empat kebutuhan yang pertama dengan tiga kebutuhan yang kemudian. Keempat kebutuhan yang pertama disebutnya kebutuhan yang timbul karena kekurangan, dan pemenuhan kebutuhan ini pada umumnya bergantung pada orang lain. Sedangkan ketiga kebutuhan yang lain dinamakan growth need (kebutuhan untuk tumbuh) dan pemenuhannya lebih bergantung pada manusia itu sendiri. Adapun dalam teori Maslow mengenai proses belajar-mengajar misalnya, guru mestinya memperhatikan teori ini. Apabila guru menemukan kesulitan untuk memahami mengapa anak-anak tertentu tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengapa anak tidak dapat tenang di dalam kelas, atau bahkan mengapa anak-anak tidak memiliki motivasi untuk belajar. Menurut Maslow, guru tidak bisa menyalahkan anak atas kejadian ini secara langsung, sebelum memahami barangkali ada proses tidak terpenuhinya kebutuhan anak yang berada di bawah kebutuhan untuk tahu dan mengerti. Bisa jadi anak-anak tersebut belum atau tidak melakukan makan pagi yang cukup, semalam tidak tidur dengan nyenyak, atau ada masalah pribadi atau keluarga yang membuatnya cemas dan takut, dan lain-lain.[11]

  1. Rogers

Carl R. Rogers adalah seorang ahli psikologi humanistik yang mempunyai ide-ide yang mempengaruhi pendidikan dan penerapanya. Melalui bukunya yang sangat populer Freedoom to Learn and Freedom To Learn For The 80’s, dia menganjurkan pendekatan pendidikan sebaiknya mencoba membuat belajar dan mengajar lebih manusiawi, lebih personal dan berarti.[12] Rogers mengutarakan pendapat tentang prinsip-prinsip belajar yang humanistik, yang meliputi hasrat untuk belajar, belajar yang berarti, belajar tanpa ancaman, belajar atas inisiatif sendiri, dan belajar untuk perubahan. [13]

Adapun penjelasan konsep masing-masing prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

(1) Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.

(2) Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud – maksud sendiri.

(3) Belajar yang menyangkut perubahan didalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.

(4) Tugas tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman- ancaman dari luar semakin kecil.

(5) Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah,pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.

(6) Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.

(7) Belajar diperlancar bilamana siswa melibatkan dalam proses belajar dan ikut tanggung jawab terhadap proses belajar itu.

(8) Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya baik perasaan maupun intelek,merupakan cara yang memberikan hasil yang mendalam dan lestari.

(9) Kepercayaan terhadap diri sendiri,kemerdekaan,kreativitas,lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara ke dua yang penting.

(10) Belajar yang paling berguna secara sosial didalam dunia modern adalah belajar mengenai proses belajar,suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuaanya terhadap diri sendiri mengenai proses perubahan itu.[14]

D. Penerapan Teori Humanis Dalam Pendidikan

Menurut Gage dan Berliner beberapa prinsip dasar dari pendekatan humanistik yang dapat kita pakai untuk mengembangkan pendidikan :

1. Murid akan belajar dengan baik apa yang mereka mau dan perlu ketahui. Saat mereka telah mengembangkan kemampuan untuk menganalisa apa dan mengapa sesuatu penting untuk mereka sesuai dengan kemampuan untuk mengarahkan perilaku untuk mencapai yang dibutuhkan dan diinginkan, mereka akan belajar dengan lebih mudah dan lebih cepat. Sebagian besar pengajar dan ahli teori belajar akan setuju dengan dengan pernyataan ini, meskupun mereka mungkin akan tidak setuju tentang apa tepatnya yang menjadi motivasi murid.

2. Mengetahui bagaimana cara belajar lebih penting daripada membutuhkan banyak pengetahuan. Dalam kelompok sosial kita dewasa ini dimana pengetahuan berganti dengan sangat cepat , pandangan ini banyak dibagi diantara kalangan pengajar, terutama mereka yang datang dari sudut pandang kognitif.

3. Evaluasi diri adalah satu satunya evaluasi yang berarti untuk pekerjaan murid. Penekanan disini adalah pada perkembangan internal dan regulasi diri. Sementara banyak pengajar akan setuju bahwa ini adalah hal yang penting, mereka juga akan mengusung sebuah kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan murid untuk berhadapan dengan pengharapan eksternal. Pertemuan dengan pengaharapan eksternal seperti ini menghadapkan pertentangan pada sebagian besar teori humanistik.

4. Perasaan adalah sama penting dengan kenyataan. Banyak tugas dari pandangan humanistik seakan memvalidasi poin ini dan dalam satu area, pengajar yang berorientasi humanistik membuat sumbangan yang berarti untuk dasar pengetahuan kita.

5. Murid akan belajar dengan lebih baik dalam lingkungan yang tidak mengancam. Ini adalah salah satu area dimana pengajar humanistik telah memiliki dampak dalam praktek pendidikan. Orientasi yang mendukung saat ini adalah lingkungan harus tidak mengancam baik secara psikologis, emosional dan fisikal. Bagaimanapun, ada penelitian yang menyarankan lingkungan yang netral bahkan agak sejuk adalah yang terbaik untuk murid yang lebih tua dan sangat termotivasi.

Menurut aliran humanistik, para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikukum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini. Beberapa psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang, untuk lebih baik, dan juga belajar. Jadi sekoah harus berhati-hati supaya tidak membunuh insting ini dengan memaksakan anak belajar sesuatu sebelum mereka siap. Jadi bukan hal yang benar apabila anak dipaksa untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara fisiologis dan juga punya keinginan. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi, bukan sebagai konselor seperti dalam Freudian ataupun pengelola perilaku seperti pada behaviorisme.

Secara singkatnya, pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Para pendidik hanya membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.

Teori ini cocok untuk di terapkan pada materi - materi yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan analisis terhadap fenomena social. Indikator keberhasilan dari teori ini adalah : Siswa senang, bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir siswa, serta meningkatnya kemauan sendiri.

Menurut teori ini ciri-ciri guru yang baik adalah yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar. Mampu mengatur ruang kelads lebih terbuka dan mampu menyesuaikannya pada perubahan. Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah, mudah menjadi tidak sabar, suka melukai perasaan siswa dengan komentar yang menyakitkan, bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.[15]

E. Implikasi Teori Belajar Humanis Dalam Proses Pembelajaran dan Pengajaran

Guru Sebagai Fasilitator Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas si fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes (petunjuk), diantaranya:

1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas

2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.

3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.

4. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.

5. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.

6. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok

7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.

8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa

9. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar

10. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.[16]

F. Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa

Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.

Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.

Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :

  1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
  2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
  3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
  4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
  5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
  6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
  7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
  8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.

Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.[17]

G. Kelebihan dan Kekurangan Dalam Teori Humanistik

1. Kelebihan:

  • Bersifat pembentukan kepribadian,hati nurani,perubahan sikap,analisis terhadap fenomena social.
  • Siswa merasa senang,berinisiatif dalam belajar.
  • Guru menerima siswa apa adanya,memahami jalan pikiran siswa.

2. Kekurangan:

· Bersifat individual.

· Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung.[18]

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

* Psikologi humanistik atau disebut juga dengan nama psikologi kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkah laku manusia, yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia.

* Adapun Prinsip dasar Teori Belajar Psikologi Humanistik, diantaranya:

· Memahami manusia sebagai suatu totalitas.

· Metode yang digunakan adalah life history.

· Mengakui pentingnya personal freedom dan responsibility dalam proses pengambilan keputusan yang berlangsung sepanjang hidup.

· Mind bersifat aktif, dinamis.

· Pandangan humanistik banyak diterapkan dalam bidang psikoterapi dan konseling.

* Tokoh-tokoh aliran humanistik diantaranya:

1. Bloom dan Karthwohl

2. Kolb

3. Honey dan Mumford

* Teori belajar menurut tokoh humanistic:

1. Teori combs

Combs menjelaskan bagaimana persepsi ahli-ahli psikologi dalam memandang tingkah laku. Untuk mengerti tingkah laku manusia, yang penting adalah mengerti bagaimana dunia ini dilihat dari sudut pandangnya. pernyataan ini adalah salah satu dari pandangan humanistik mengenai perasaan, persepsi, kepercayaan,dan tujuan tingkah laku dari dalam (inner) yang membuat orang berbeda dari orang lain.

2. Teori Maslow

Teori Maslow didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri kita ada dua hal:

1) Suatu usaha yang positif untuk berkembang

2) Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.

Maslow berpendapat,bahwa manusia memiliki 7 hierarki kebutuhan Diantaranya:

1) Kebutuhan jasmaniah

2) Kebutuhan keamanan seperti kebutuhan kesehatan dan kebutuhan

3) Kebutuhan untuk memiliki dan cinta kasih

4) Kebutuhan harga diri

5) Kebutuhan aktualisasi diri

6) Kebutuhan untuk tahu dan mengerti

7) Kebutuhan estetiis.

3. Teori Rogers

Melalui bukunya yang sangat populer Freedoom to Learn and Freedom To Learn For The 80’s, dia menganjurkan pendekatan pendidikan sebaiknya mencoba membuat belajar dan mengajar lebih manusiawi, lebih personal dan berarti. Rogers mengutarakan pendapat tentang prinsip-prinsip belajar yang humanistik, yang meliputi hasrat untuk belajar, belajar yang berarti, belajar tanpa ancaman, belajar atas inisiatif sendiri, dan belajar untuk perubahan.

* Implikasi teori belajar humanis dalam proses pembelajaran dan pengajaran yaitu guru sebagai fasilitator.

* Kelebihan dan kekurangan dalam teori humanistik

1. Kelebihan:

· Bersifat pembentukan kepribadian,hati nurani,perubahan sikap, analisis terhadap fenomena social.

· Siswa merasa senang,berinisiatif dalam belajar.

· Guru menerima siswa apa adanya,memahami jalan pikiran siswa.

2. Kekurangan:

· Bersifat individual.

· Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung.



[1] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Prineka Cipta , 2006), h: 136

[3] Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2002), h: 124

[5] Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran ,(Jakarta: Bumi Aksara, 2005),h:13-17.

[8] Wasty Soemanto,op.cit, h: 137-138

[9] Sri Esti Wuryani Djiwandono, op.cit, h: 182-183.

[10] Wasty Soemanto,op.cit, h:138-139.

[12] Sri Esti Wuryani Djiwandono, op.cit, h: 183-184.

[14] Wasty Soemanto,op.cit, h: 139.

[18] http://dinamika.uny.ac.id/akademik/data_list.php?kode=150&nip=132319836.

3 komentar: