Senin, 16 Maret 2009

sejarah Dinasti Thulun

Tuluniyah adalah sebuah dinasti yang muncul dan berkuasa di mesir dan suriah, independent dari khalifah-khalifah Abbasiyah.(http://dkmfahutan.wordpress.com/2006/10/17/pemerintahan-islam-1/) pada abad ke-9 (3H), yakni dari 868-254H) sampai 905 (292H). sejak 977 (263H) dinasti ini melepaskan drinya dari khalifah Bani Abbas, dan dengan demkian Mesir untuk pertama kalinya setelah berlalu 9 abad, menjadi Negara merdeka (tidak menjadi provinsi atau dari bagian daulat yang berpusat di tempat lain). Sejarah mencatat bahwa sebelumnya mesir-mesir adalah provnsi atu bagian dari Imperium romawi (30 SM-642/21 H), khilafat khulafa Rasyidin (642/21H-665/4H), Khilafat bani Umayyah (665/40H-750/123H) sampai Dinasti Thuluniyah melepaskan diri dari Khalifat bani Abbas (877/263 H).
Pendiri Dinasti Thulun yang berumur pendek (Daulah 868-905) di Mesir dan Suriah adalah Ahmad Ibn Thulun. Ahmad bin Thulun Lahir 23 Ramadhan 220 abad ke-3 Hijriah. Dinasti Thulun adalah dinasti kesultanan Mesir pertama dan berhasil memasukkan Syria ke dalam wilayah kekuasaannya. Awal garis keturunan Thulun adalah seorang budak yang dihadiahkan kepada Khalifah Ma’mun dari Dinasti Abbasiah oleh seorang penguasa dari Bukhara. Putra Thulun, yaitu Ahmad bin Thulun mendirikan dinasti raja-raja yang berkuasa di Mesir dan Syria dari tahun 254 hingga 292 Hijriah.
Ahmad ibn Thulun adalah anak dari seorang budak berkebangsaan Turki bernama Thulun yang masih berdarah Mongol. Nama Thulun sendiri dalam bahasa Turki bermakna “kemunculan yang sempurna”. Mulanya, Thulun menjadi budak bagi Nuh ibn Asad dan lantas dihadiahkan kepada Khalifah al-Ma’mun. Atau ada satu kisah yang menyatakan, jika Thulun tercatat pertama kali masuk ke Baghdad pada tahun 816 M.

Kemampuan militernya yang menonjol menjadikan Thulun terpilih sebagai anggota pasukan khusus pengawal Khalifah. Meski termasuk dalam jajaran pembesar militer, literatur sejarah tak pernah mencatat keterlibatan Thulun dalam peristiwa revolusi yang dilakukan oleh budak-budak berkebangsaan Turki (Mamalik) pasca meninggalnya al-Mu’tashim tahun 842 M.
Ayahnya adalah seorang turki dari Farghanah, Pada 817 dipersembahkan oleh penguasa samaniyah di bukhara sebagai hadiah untuk al-Ma’mun. Pada 868, Ahmad berangkat ke Mesir sebagai pimpinan tentara untk gubernur mesir. Disini ia segera berusaha mendapatkan kemerdekaan dirinya. Ketika menghadapi tekanan keuangan karena adanya pembrontakan wangsa zanj, Khalifah al-Mu’tamid (870-892) meminta bantuan financial kepada komandan pasukannya yang orang mesir itu, tetapi permintaan itu tida dipenuhi. Peristiwa ini menjadi titik balik yang mengubah sejarah kehidpan Mesir selanjutnya. Peristiwa ini juga menandai bangkitmya sebuah Negara merdeka dilembah sungai Nil yang kedaulatannya bertahan selama abad pertengahan. Higga saat itu sebagian dari kekayaan mesir diberikan kepada Baghdad dan sebagian yang lainnya masuk kesuku para gubernur yang dating silih berganti, Pada awalnya merupakan para penarik oajak dari petani, kini uang terus berputar di negri itu dan dihabiskan untuk memuliakan para penguasa.
Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta:UIN Syarif Hidayatullah, 1992, h.951
Tak lama selepas kelahiran Ahmad, Thulun meninggal dunia. Beberapa saat kemudian, ibunya yang menjanda disunting oleh Bagha al-Ashghar, salah satu panglima militer dinasti Abbasiyyah yang berasal dari daerah Turki. Pasca kematian Bagha al-Ashghar, ibunya menikah untuk yang ketiga kalinya dengan Bakbak (Bayik Bey), seorang pembesar militer yang menggantikan posisi Bagha al-Ashghar. Boleh dikatakan, Ahmad ibn Thulun tumbuh besar dalam tradisi Turki dan didikan militer. Selain aktif dalam dunia militer, Ahmad ibn Thulun juga menaruh keinginan untuk belajar ilmu-ilmu agama. Tercatat, dia mempelajari fikih mazhab Hanafiyyah, hadits dan disiplin ilmu lainnya hingga akhirnya dia menikah dengan Khatun, puteri pamannya yang bernama Yarjukh.
Meski sudah berkeluarga, hasrat menuntut ilmu Ahmad ibn Thulun tak surut. Berkat bantuan salah satu menteri, dia memutuskan pindah dari Samarra ke Tharsus untuk menimba ilmu tentang fikih, tafsir dan yang lainnya. Kunjungan perdana Ahmad ibn Thulun ke Mesir terjadi pada tahun 868 M untuk menggantikan Bakbak (Bayik Bey) sebagai pejabat pemerintahan (gubernur) dinasti Abbasiyyah.
Masa awalnya sebagai gubernur ditandai adanya konflik dengan Ahmad ibn al-Mudabbir, pengumpul pajak resmi dinasti Abasiyyah. Ibn al-Mudabbir enggan melaporkan hasil pajak kepada Ahmad ibn Thulun. Melainkan lebih suka melapor langsung pada Khalifah di Baghdad. Kharisma Ahmad ibn Thulun sontak meningkat pasca keberhasilannya ‘menundukkan’ Ibn al-Mudabbir. Bahkan selepas mertuanya menjadi pembesar militer Abasiyyah di Baghdad, Ahmad ibn Thulun memiliki kekuasaan yang lebih besar. Ahmad ibn Thulun tak hanya mengontrol Cairo semata, namun juga punya kewenangan untuk mengontrol penuh kawasan Alexandria dan sekitarnya. Tak hanya itu, Ahmad ibn Thulun juga diberi kekuasaan untuk mempersiapkan tentara sebanyak 100.000 prajurit.

Pamornya kian meninggi setelah mampu memenangi konfrontasi dengan Gubernur Syam. Perlahan, dia tak lagi menyebut dirinya sebagai gubernur. Namun mendakunya sebagai pemegang kebijakan independen yang tak lagi memiliki kaitan hierarkis terhadap Abasiyyah. Dia mulai memasang gambar wajahnya di mata uang, mengangkat pembantu (menteri), kepolisian, bea dan cukai, istana, perdagangan, dan dinas intelijen. Atas keberaniannya ini, Ahmad ibn Thulun tercatat sebagai pendiri negara Islam pertama bernama dinasti Thuluniyyin di Cairo-Mesir.
Selepas melakukan pengepungan terhadap Tarsus tahun 883 M., Ahmad ibn Thulun kembali ke Mesir. Tahun 884 M., dia meninggal dan mewariskan jabatan kepemimpinan dinasti Thulun kepada anaknya yang bernama Khumarraweh. Sayangnya, gaya kepemimpinan Ahmad ibn Thulun yang kharismatik tak dijumpai pada kepribadian anaknya. Akibatnya, 904-905 M., dinasti Abasiyyah berhasil menjadikan kembali kawasan kepunyaan dinasti Thuluniyyah sebagai daerah ‘jajahannya’.
http:afkar.numesir.org/indek.php?option=com_content&view=article&id=98:jejak-peninggalan-dinasti-thulunid-&catid=45:safari-histori&Itemid=78


Peninggalan Dinasti Thulun
Ketika menginjakkan kakinya pertama kali di Cairo, Ahmad ibn Thulun merasa Fusthath sebagai ibu kota Mesir dan kawasan al-‘Askar sudah tak memadai lagi. Dia berinisiatif membuka dan mengembangkan satu kota baru sebagai ibu kota. Mengambil lokasi di arah timur laut dari ibu kota yang lama, Ahmad Ibn Thulun memilih kawasan bukit Gabal Yashkur sebagai lokasi ibu kota dinasti Thuluniyyin. Masyarakat saat itu menyebutnya sebagai daerah al-Qatha’i. Dinamakan al-Qatha’i karena Ahmad ibn Thulun membagi daerah itu ke dalam beberapa bagian (qathi’at) sesuai dengan kelas sosialnya. Di kawasan ini, Ahmad Ibn Thulun mendirikan kompleks istana yang menyatu dengan bangunan masjid. Masjid inilah yang kelak masyhur dengan nama masjid Ahmad ibn Thulun.
Mesjid ini dibangun oleh Ahmad bin Thulun tahun 262 H hingga tahun 265 H diatas sebuah gunung yang bernama “Jabal Yasykur”. http://alwashliyahmesir.blogspot.com/2009/03/panduan-ziarah-atsar-islam.html di perempatan Sayidah Zainab di Kairo Selatan, di daerah Qata`i. Tipe bangunan mesjid ini sama dengan tipe mesjid Samarra yang mempunyai menara berbentuk spiral. Di bagian luar menara dibuat tangga yang mengitari badan menara sampai ke puncak.
http://www.dkmfahutan.20megsfree.com/ibaad1/new_page_17.htm
Mesjid ini terhitung sebagai mesjid tertua ketiga di Mesir setelah Mesjid Amru bin ‘Ash dibangun tahun 21 H dan Mesjid ‘Askar dibangun tahun 169 H. Mesjid ini memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri dibanding mesjid-mesjid lainnya yaitu berupa hiasan, arsitektur dan bentuk bangunannya. Mesjid ini menjadi kebanggan penduduk Mesir hingga menjadikannya banyak yang mengunjunginya. Mesjid ini dinamakan Mesjid Ahmad bin Thulun, nisbah kepada pendirinya yaitu Ahmad bin Thulun. (Al Atsar al Islamiyyah: 47-50) Al-Jam'iyatul Washliyah Cairo 2009
http://alwashliyahmesir.blogspot.com/2009/03/panduan-ziarah-atsar-islam.html
Dimulai tahun 876 M., pembangunan masjid Ahmad ibn Thulun baru selesai pada tahun 879 M. Terletak di kaki bukit bernama Gabal Yashkur; sebuah bukit yang diyakini masyarakat Mesir penuh berkah, masjid ini didesain dengan gaya arsitektur model Samarra dengan pola konstruksi yang lazim dipakai oleh dinasti Abbasiyyah. Nuansa Samarra akan kian terlihat bila kita menengok satu fakta bahwa arsitek masjid Ahmad ibn Thulun adalah orang Kristen dari Irak.
Tercatat, masjid dan kompleks sekitarnya ini beberapa kali mengalami renovasi. Renovasi pertama kali yang tercatat dalam sejarah adalah renovasi yang dilakukan oleh pihak dinasti Fathimiyyah tahun 1117. Bahkan renovasi terasa dahsyatnya karena sampai menggusur dan menghilangkan bentuk bangunan istana dinasti Thuluniyyah. Al-Maqrizi memberikan kesaksian, bangunan istana Ahmad ibn Thulun terdiri atas beberapa gerbang yang mempunyai nama tertentu dan memiliki fungsi yang tak sama. Misal, gerbang yang bernama Bab al-Maydan menjadi pintu masuk bagi para tentara, Bab al-Haram adalah pintu gerbang bagi kaum wanita, Bab al-Shalat menjadi akses penghubung ke masjid Ahmad Ibn Thulun, Bab al-Jabal sebagai gerbang ketika hendak menikmati suasana bukit Muqaththam. Ada juga Bab al-Saj, Bab al-Darmun dan Bab al-Sibagh.

Tahun 1296, area ini mengalami perombakan. Salah satu berkah dari perombakan kali ini, dalam sebuah versi, adalah dibangunnya menara yang menjulang tinggi yang terletak di ruwaq luar sisi Barat masjid. Menara masjid Ahmad ibn Thulun yang mengerucut dengan tangga memutari menara (spiral), dalam klaim sejarawan, membuktikan pengaruh kuat seni arsitektur Samarra. Sebab menara dengan model itu hanya terdapat di masjid Jami’ Samarra. Di tahun berikutnya, beberapa perbaikan terus berlanjut hingga tahun 2004 yang dilakukan oleh The Egyptian Supreme Council of Antiquities.

Masjid Jami’ Ibn Thulun yang berada tepat di pusat kawasan al-Qatha’i berbentuk segi empat dengan halaman terbuka yang sangat luas tepat di tengah. Di bagian halaman, terdapat bangunan berkubah yang menjadi tempat wudhu sekaligus penyedia air minum publik (sabil). Tiang masjid ini ketinggiannya mencapai 92 m, memiliki luas sekitar 8487 m2 dengan dikelilingi oleh ruwaq-ruwaq di keempat sisinya. Di antara tembok masjid dengan pagar kelilingnya, terdapat tiga ruwaq luar yang bernama al-ziyâdât. Alasan pembangunan al-ziyâdât adalah untuk mengantisipasi membludaknya jamaah.
Boleh dibilang, masjid Ahmad ibn Thulun ini adalah salah satu peninggalan orisinil terpenting peradaban Arab Islam di Mesir. Sebab bila dibandingkan dengan masjid Jami’ Amr ibn ‘Ash yang sudah banyak kehilangan identitasnya, masjid Ahmad ibn Thulun masih mempertahan bentuk awalnya sebagaimana dibangun dulu di bawah pengawasan langsung Ahmad ibn Thulun.
Sebagaimana paparan Sayyidah Isma’il Kasyif, selain masjid Ahmad ibn Thulun, setidaknya masih terdapat beberapa peninggalan dinasti Thuluniyyah. Meski relatif banyak, namun dapat dipastikan bahwa model dan karakter peninggalan dinasti Thuluniyyah tidak begitu mengalami perbedaan yang signifikan dengan peninggalan dinasti Abasiyyah. Peninggalan dinasti Thuluniyyah yang lain adalah situs arkeologis berupa saluran air (al-qanâthir) Ahmad ibn Thulun. Al-Qanathir Ahmad ibn Thulun ini terletak di arah tenggara kawasan al-Qatha’i. Secara fisik, konstruksi saluran air Ahmad ibn Thulun menyerupai saluran air yang yang ada di masa kerajaan Romawi. Para sejarawan Muslim menyebut saluran air tersebut dengan al-Siqâyah.

Warisan lain dari dinasti Thuluniyyah adalah al-Bimaristan atau al-Maristan. Al-Maristan merupakan nama bagi sebuah bangunan yang berfungsi sebagai klinik atau balai pengobatan umum bagi masyarakat (non militer dan budak) yang sakit. Dalam klinik ini, semua warga boleh memanfaatkan fasilitasnya tanpa melakukan pembedaan latar belakang suku dan agama. Selain memberikan pelayanan kesehatan cuma-cuma, al-Maristan juga memberikan kenyamanan layaknya rumah sakit modern. Pasien yang hendak dirawat di al-Maristan, disediakan seragam khusus dan mendapat perawatan intensif dari dokter tanpa dipungut biaya. Hanya sayang, bentuk fisik al-Maristan tak bisa dijumpai lagi.
Peninggalan dinasti Thuluniyyah lain yang tak kalah penting adalah masjid al-Tannur yang terletak di puncak bukit Muqaththam. Dengan membangun masjid ini, Ahmad ibn Thulun bermaksud mengantisipasi kepadatan jamaah di masjid Jami al-‘Askar. Masjid Jami’ al-‘Askar tak lagi mampu menampung jamaah yang mayoritas adalah prajurit dan sebagaian masyarakat umum.
Kiprah mulia Ahmad ibn Thulun tak hanya terhenti di situ. Beberapa proyek perbaikan dan renovasi terhadap peninggalan masa sebelumnya juga dia lakukan. Sejarah mencatat, dia menginstruksikan preservasi terhadap beberapa fasilitas publik. Seperti perawatan saluran air dan perbaikan menara di Alexandria. Dan sejarah juga akan mencatat, salah satu daya pikat Mesir dalam bentuk wisata religiusnya adalah karena jasa Ahmad ibn Thulun dengan dinasti Thuluniyyah-nya.
http://pcinu-mesir.tripod.com/arsips/galeri/isgaleri/masjid/ahmad.html
Selain itu masjid yang agung yang menyandang nama Ahmad Ibn Thulun, juga menjadi salah satu monument keagamaan yang penting dalam Islam. Masjid ini terutama menaranya yang tertua dimesir menunjukan pengaruh arsitektur bergaya samara, tempat ahmad menghabiskan masa mudanya. Pembangunan masjid itu menelan biyaya sekitar 120.000 dinar. Kemegahan dan kemewahan masjid ini diantaranya karena penggunaan batu bata,juga karena merupakan bangunan pertama yang menggunakan teknik lingkungan. Sekitar sepertujuh belas bagian Al-Qur’an dituliskan dengan gaya tulisan kufi yang indah diatas hiasan kayu yang memenuhi bagian dalam masjid, tepat dibawah langit-langit yang kayu datar.
Salah satu bangunan Islam yang lainnya yang terhitung istimewa adalah istana khumarawih (844-895), bangunan yang ditinggali anak sekaligus penerus ahma. Bangunan ini memiliki “aula emas,” yang dindingnya dilapisi emas dan dihiasi lapisan bergambar dirinya para istri, dan para pengiringnya. Gambar-gambar khumarawih beserta para istrinya yang mengenakan mahkota emas, berukuran sebesar manusia aslinya, dipahat diatas kay. Pengamatan manusia hidup seperti ini sangat jarang ditemukan dalam tradisi kesenian islam. Istana itu berdiri di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga indah dan wangi-ditaman di pelataran dan diatur sedemikian rupa sehingga membentuk kata-kata dalam bahasa arab.
Ahmad bin Thulun Lahir
23 Ramadhan 220 Hijriah, Ahmad bin Thulun, pendiri dinasti Thulun yang berkuasa di Mesir dan Syria pada abad ke-3 Hijriah, terlahir ke dunia. Dinasti Thulun adalah dinasti kesultanan Mesir pertama dan berhasil memasukkan Syria ke dalam wilayah kekuasaannya. Awal garis keturunan Thulun adalah seorang budak yang dihadiahkan kepada Khalifah Ma’mun dari Dinasti Abbasiah oleh seorang penguasa dari Bukhara. Putra Thulun, yaitu Ahmad bin Thulun mendirikan dinasti raja-raja yang berkuasa di Mesir dan Syria dari tahun 254 hingga 292 Hijriah.
Ahmad bin Thulun Lahir
23 Ramadhan 220 Hijriah, Ahmad bin Thulun, pendiri dinasti Thulun yang berkuasa di Mesir dan Syria pada abad ke-3 Hijriah, terlahir ke dunia. Dinasti Thulun adalah dinasti kesultanan Mesir pertama dan berhasil memasukkan Syria ke dalam wilayah kekuasaannya. Awal garis keturunan Thulun adalah seorang budak yang dihadiahkan kepada Khalifah Ma’mun dari Dinasti Abbasiah oleh seorang penguasa dari Bukhara. Putra Thulun, yaitu Ahmad bin Thulun mendirikan dinasti raja-raja yang berkuasa di Mesir dan Syria dari tahun 254 hingga 292 Hijriah.
Masjid ini berbentuk segi empat yang panjangnya kurang lebih 162,5 x 161,5 meter atau sekitar 26143 meter persegi. Di tengah-tengah masjid terdapat bangunan kecil yang luasnya kurang lebih 92,5 x 91,80 meter. Masjid ini terdiri dari 42 pintu, di antaranya 21 pintu masih asli seperti dahulu kala, belum direnovasi. Diinding-dindingnya dilengkapi dengan jendela-jendela yang jumlahnya 129 buah yang dilapisi dengan kapur yang diukir indah dan menarik. Di dalam masjid juga terdapat lima buah mihrab. Mihrab yang paling besar dan paling punya nilai sejarah adalah mihrab yang paling tengah yang dibangun pada masa Sultan Mamalik yaitu Sultan Saifuddin Lagin. Menaranya yang melingkar menjadi daya tarik tersendiri sekaligus ciri khas dari masjid Ibnu Thulun ini.
Cairo, 08 September 2006, Gotak kecil Masjid Indonesia Cairo. Oleh Fatkhur Rohman.

masjidcairo.org/page.php?sahhe=wawancara_view&id=2
www.blogger.com/profile/00582048449499531306
Phlip k hitti
Histori of the arab
Sreambi
Kematian Khumarawih pada 895 (282H) Merupakan awal kemunduran dinasti itu. Persaingan yang hebat antara unsure-unsur pembesar dinasti telah memecah persatuan dalam dinasti. Amir yang ketiga, Abu al-Asakir bin khumarawih, dilawan oleh sebagian pasukannya dan dapat disingkirkan (896/283 H) Adiknya yang baru berusia 14 tahun, Harun bin Khumarawih, diangkat sebagai amir yang keempat. Akan tetapi kelemahan sudah sedemikian rupa, sehingga wilayah syam dapat direbut oleh pasukan Qaramitah. Amirnya yang kelima , Syaiban bin Ahmad bin thulun, hanya 12 hari saja memerintah, Karna ia menyerah ketangan pasukan Bani Abbas yang menyerang Mesirpada 905 (292H), dan demikian berakhirlah riwayat dinasti thuluniyah.
Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta:UIN Syarif Hidayatullah, 1992, h.952-953

Tidak ada komentar:

Posting Komentar